VALAS

KURS

JUAL

BELI

USD9125.00 8875.00
SGD7185.82 7170.82 
AUD9810.20 9506.20 
JPY118.25 113.83 
10-Feb-2012 / 11:40 WIB

 
Semarang–Kudus dan Kualitas Infrastruktur PDF Print
Monday, 15 March 2010
PEKAN lalu saya melakukan perjalanan darat dari Semarang ke Kudus dan sebaliknya. Sebelumnya, sekitar pertengahan 2009, saya juga melakukan perjalanan darat dari Semarang ke Rembang melalui Kudus, Pati, dan Juwana.

Karena itu, perjalanan ke Kudus pekan lalu memberikan kesempatan bagi saya untuk membandingkan jalan yang saya tempuh tersebut. Perjalanan pekan lalu saya tempuh dalam waktu hanya satu seperempat jam, jauh lebih cepat dibandingkan dengan pertengahan 2009 yang memerlukan waktu tempuh sekitar dua jam.

Bahkan banyak teman di Kudus yang mengatakan mereka setiap hari hanya memerlukan waktu sekitar satu jam untuk menempuh perjalanan Semarang– Kudus. Kenapa terjadi perbedaan tersebut? Jawabannya sangat membesarkan hati, yaitu jalan Semarang–Kudus sudah selesai dibangun dan diperlebar sehingga sama lebarnya dengan jalan Semarang ke Pekalongan dan Tegal.

Perjalanan ke dua kota tersebut, yaitu dari Semarang ke Pekalongan dan Tegal, saya lakukan juga pada akhir 2009 lalu sehingga bisa menjadi suatu bahan perbandingan yang menarik. Kesimpulan yang bisa ditarik dari perjalanan tersebut,ternyata pemerintah cukup serius dalam menggarap jalan Semarang ke Kudus yang ternyata merupakan bagian dari program peningkatan kualitas jalan raya itu, baik dari sisi lebar maupun kualitas pembangunannya.

Pandangan ini justru muncul dari teman-teman pengusaha dari Kudus yang setiap hari harus melakukan perjalanan menempuh jalur tersebut.Mereka melakukan pengamatan pada saat pembangunan jalan itu dilakukan,mulai dari penggalian,pengurukan batu dan pasir, penggunaan geotekstil hingga pengaspalan jalan. Meski memakan waktu lebih lama dalam pembangunannya, mereka percaya kualitas jalan yang dibangun tersebut sesuai dengan standar yang baik.

Selesainya pembangunan jalan tersebut merupakan stimulus yang besar bagi dunia usaha di daerah tersebut. Kudus sebagai pusat industri rokok kretek dan industri lain merupakan penyumbang pajak yang nilainya triliunan rupiah setiap tahunnya, bahkan mungkin mencapai hampir Rp20 triliun. Rasanya tidak fair menelantarkan jalan bagi industri yang menyumbangkan pajak yang sedemikian besar setiap tahunnya karena jalan tersebut merupakan urat nadi bagi distribusi produk maupun jalur utama bagi penyediaan bahan baku mereka.

Dengan selesainya pembangunan, jalan pantura dari Jakarta ke Kudus menjadi lebar sehingga dapat mengurangi tingkat kemacetan. Mengingat pentingnya jalur pantura dari Jakarta ke Surabaya, kelanjutan pembangunan tersebut ke Surabaya perlu menjadi prioritas. Pengalaman saya melakukan perjalanan ke Rembang dan berlanjut dari Tuban ke Surabaya,betapa lambatnya perjalanan darat dari Kudus ke Rembang.

Saya yakin, jalan bypass Kota Pati yang pertengahan tahun lalu belum selesai pembangunannya mungkin sudah selesai saat ini atau mendekati penyelesaian. Jika hal itu tercapai, waktu tempuh perjalanan ke Surabaya akan menjadi lebih pendek yang tentu akan memberikan manfaat bagi banyak pihak. Perkembangan ekonomi dalam tahuntahun mendatang ini sungguh bukan suatu hal yang bisa dipandang ringan.

Sebuah perusahaan multinasional yang besar berhasil melipatduakan penjualannya selama lima tahun terakhir. Mereka bahkan bertekad melipatduakan lagi penjualannya tidak dalam lima tahun, melainkan empat tahun ke depan.Jika saat ini dibutuhkan sekitar 100 truk setiap harinya untuk mengangkut produk perusahaan tersebut dari Jakarta ke Surabaya, bisa dibayangkan dalam waktu lima tahun ke depan.

Hal seperti itu juga saya dengar berkembang pada perusahaan- perusahaan lain.Sebuah konsultan perhubungan udara juga memperkirakan terjadinya pelipatduaan jumlah penumpang pesawat udara di Indonesia dari 40 juta penumpang menjadi 80 juta penumpang dalam waktu empat sampai lima tahun ke depan. Karena itu jika kecepatan penyediaan infrastruktur tidak segera tertangani, pada akhirnya berbagai keinginan tersebut akan terhambat.

Saya bahkan pernah mengusulkan pembangunan jalan bebas hambatan tanpa bayar di jalur pantura seperti yang banyak dimiliki negara-negara maju. Ini berarti banyak persimpangan sebidang di jalur tersebut yang ke depan harus dipersiapkan sebagai jalan layang. Jika hal tersebut bisa dilakukan dalam jangka waktu tidak lama, yaitu melalui program akselerasi pembangunan infrastruktur, waktu tempuh Jakarta– Surabaya akan lebih pendek.

Perkembangan tersebut sekali lagi juga akan meningkatkan kualitas infrastruktur sehingga mampu menopang pertumbuhan ekonomi selama beberapa tahun mendatang. Dewasa ini mulai pula terjadi pergeseran penggunaan jalan raya ke kereta api. Informasi dari PT Kereta Api menyebutkan, hanya dalam waktu setahun, pengangkutan barang menggunakan kereta api telah melonjak dari 300 kontainer menjadi 1.000 kontainer per minggu.

Mereka menargetkan 5.000 kontainer per minggu dalam waktu lima tahun mendatang. Melihat prospek pelipatduaan produksi berbagai industri dalam empat lima tahun mendatang, akselerasi pembangunan jalur ganda kereta api untuk jalur pantura juga perlu dipercepat. Jika semula pembangunan jalur ganda tersebut akan selesai pada 2014, apakah tidak dimungkinkan dipercepat menjadi tahun 2012? Jika ini terjadi, bukan hanya 5.000 kontainer per minggu, tetapi jumlah yang lebih besar pun akan mungkin dilayani PT Kereta Api.

Pemerintah mulai menunjukkan bukti telah berbuat banyak dalam pembangunan infrastruktur. Perkembangan perekonomian memang sangat mendambakan infrastruktur berkualitas dengan tingkat pertumbuhan tinggi. Mumpung pemerintah sedang memiliki kemampuan besar dalam pendanaan, marilah kita dukung pembangunan infrastruktur tersebut sehingga dapat lebih cepat tersedia.(*)

CYRILLUS HARINOWO HADIWERDOYO
Pengamat Ekonomi