|
||||||||||||||||||
| Terjepit di Antara Ambisi dan Romantisme |
|
|
| Saturday, 13 March 2010 | |
|
Kebijakan transfer pemain menjelang bergulirnya Kompetisi Liga
Indonesia musim 2003 menandai dibukanya pintu bagi pemain asing masuk
ke skuad Persib Bandung. Kuartet Polandia Pawel Bocian, Marius Mucharski,Maciej Dolega,dan Piotr Orlinski, plus Pelatih Marek Andrez Sledzianowski jadi rombongan asing pertama yang “menjajah”skuad Maung Bandung.Sejak itu,perekrutan pemain asing jadi salah satu kebijakan tetap yang diambil pengurus Maung Bandung. TAPI,faktanya,kehadiran mereka tak lantas mengangkat prestasi Maung Bandung hingga puncak.
Sejak itu pula Maung Bandung seperti melupakan pola perekrutan pemain muda. Cenderung takut memberikan kesempatan lebih banyak kepada pemain muda. Tarik ulur status pengelolaan tim Persib U-21,sebelum Liga Super 2009/2010 bergulir,jadi contoh yang seolah menunjukkan pengurus emoh menaruh perhatian lebih terhadap masalah pembinaan.Terkesan ada pemisahan antara senior danjunior. Takadakeputusanberani yang diambil pengurus maupun staf pelatih untuk memanfaatkan tenagapemainU- 21ketikapersoalanmateri pemain dialami tim senior. Pemandangan ini berbalik 180 derajat dengan klub lain seperti Pelita Jaya yang kontinu memakai Jajang Mulyana dan Egi Melgiansyah mengisi skuad junior dan senior. Lalu,Persik Kediri yang cukup berani mengorbitkan Yongki Aribowo dan Arema Malang yang memilih Kurnia Mega mengisi posisi sebagai kiper utama dan merelakan Markus Horison pergi ke Persib. Sebenarnya sejak Liga Super musim 2008/2009 di bawah Manajer Jaja Soetardja, Maung Bandung kembali menerapkan kebijakan mengambil pemain dari skuad junior. Wildansyah, Irwan Wijasmara, dan Chandra Yusuf dicomot dari skuad Persib U-23. Semusim kemudian giliran Dedi Heryanto dan Munadi . Keseluruhan, Wildansyah dan Munadi termasuk cukup mendapatkan kesempatan bermain. “Yang diperlukan kesempatan bermain. Tapi, pertanyaannya, kapan hal itu didapatkan mereka? Perlu sebuah tahapan bagi pemain seusia mereka, pengalaman yang akan membentuk mereka,”ujar Jaya Hartono. Kultur sepak bola Indonesia saat ini memang sudah jauh berbeda. Tapi, tak ada salahnya jika mengembalikan memori ke belakang. Di era amatir atau Perserikatan, Persib pernah bangkit dari keterpurukan dengan bermodal skuad muda yang dibentuk secara matang oleh Marek Janota, pria Polandia yang pada akhirnya mesti dihargai karena jasa besarnya memoles Robby Darwis, Adjat Sudrajat, Suryamin, Iwan Setiawan, Bambang Sukowiyono, dan lainnya mengawali era emas Maung Bandung sejak 1980-an hingga pertengahan 1990-an. “Metode latihannya sangat efektif. Dia akan mencari tahu sosok dan karakter dari masingmasing pemain yang dibinanya sehingga tak salah membentuk dan menempatkan posisi seorang pemain di lapangan,”kata Robby. Persib hingga kini masih mencoba pola mengejar prestasi dengan mengumpulkan pemain bintang. Tapi, tak ada salahnya untuk mulai secara perlahan kembali menaruh perhatian lewat pembentukan tim secara kontinu dan berkesinambungan. Pola yang jadi bagian penting dan membuat Maung Bandung secara konsisten setidaknya dalam kurun lebih dari satu dekade bertahan sebagai klub yang benarbenar dihargai tim lawan. (mohamad taufik) |