VALAS

KURS

JUAL

BELI

USD9125.00 8875.00
SGD7185.82 7170.82 
AUD9810.20 9506.20 
JPY118.25 113.83 
10-Feb-2012 / 11:40 WIB

 
Teroris Aceh- Pamulang Eks Moro PDF Print
Friday, 12 March 2010
JAKARTA (SI) – Anggota jaringan teroris yang ditangkap Detasemen Khusus (Densus) 88/Antiteror di Nanggroe Aceh Darussalam dan Pamulang, Tangerang Selatan,punya pengalaman beroperasi di wilayah konflik.


Mayoritas mereka pernah berjuang di Moro,Filipina Selatan. ”Itu kan mantan-mantan sukarelawan di Filipina,mereka dilatih di Afghanistan,” ujar Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Mabes Polri Komisaris Jenderal Polisi Ito Sumardi di Jakarta kemarin. Hingga kini, anggota teroris jaringan Aceh dan Pamulang yang berhasil ditangkap berjumlah 28 orang. Adapun tersangka teroris yang tewas berjumlah 6 orang.Perinciannya, 3 tewas di Aceh dan 3 lainnya di Pamulang. Selain menangkap tersangka, polisi juga menyita 7 pucuk senjata api dari berbagai jenis beserta puluhan ribu amunisi.

Jumlah tersangka diperkirakan bertambah mengingat perburuan masih terus berlangsung. Kemarin di Batu Anyar Solo, Jawa Tengah, Densus 88 berhasil menangkap satu dari tiga orang yang diduga anggota jaringan teroris. “Targetnya pengembangan yang kemarin Pamulang dan Aceh. Ini dikembangkan dari data yang kita buka,”ujar Ito. Menurut Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Polisi Edward Aritonang, jaringan teroris terus melakukan rekrutmen dengan mencari calon pelaku teror. Pihaknya mengaku sudah mengantongi data berisi namanama yang diduga kuat calon anggota jaringan teror. “Kita sudah tahu siapa-siapa yang ikut dalam kegiatan teror itu, termasuk mereka yang belum tertangkap,” kata Edward di Jakarta kemarin.

Selain terus memburu jaringan teroris,Polri masih mendalami seluruh barang bukti yang disita dalam penggerebekan di Pamulang. Termasuk sebuah laptop milik dr Fauzi (buron polisi yang rumahnya disinggahi Dulmatin) dan isi e-mailDulmatin saat berada di warung internet (warnet),begitu juga aliran dana sebesar Rp500 juta.“Kita baru mendapatkan data aliran dana dari mereka ke Aceh, sementara dana dari mana ke mereka ini masih terus ditelusuri,” ujarnya. Terhadap buronan Umar Patek dan Zulkarnaen,menurut Edward, mereka akan terus dikejar. ”Karena mereka termasuk bagian dari kelompok yang sudah terindikasi terlibat beberapa peristiwa di Indonesia,”jelasnya.

Di tempat terpisah,Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Yunus Husein mengatakan,pada 2010 ini pihaknya belum mendapat laporan tentang transaksi keuangan mencurigakan yang terkait terorisme. ”Terakhir kita menerima laporan tentang transaksi keuangan mencurigakan terkait teroris tahun lalu,” jelasnya kepada harian Seputar Indonesia (SI) di Jakarta kemarin. Menurut dia,sejak 2003 hingga 2009,PPATK sudah menemukan 97 laporan transaksi keuangan mencurigakan terkait terorisme. Dari 97 laporan tersebut,30 di antaranya berhasil dianalisis sebagai mencurigakan. Laporan itu sudah diserahkan kepada pihak kepolisian.

PPATK adalah lembaga yang berhak melakukan analisis pada transaksi perbankan yang mencurigakan. Misalnya, aliran melalui perbankan yang dananya dicurigai terkait dengan hasil korupsi, terorisme,atau pidana lainnya.Data PPATK diperoleh dari perbankan di Indonesia dan data tersebut diserahkan kepada penegak hukum.

Desertir Polisi

Dari 28 anggota jaringan teroris yang berhasil ditangkap polisi, mereka memiliki beragam latar belakang. Sofyan Tasauri, salah satu yang ditangkap polisi, ternyata merupakan desertir Polres Depok. Sofyan disebut polisi pernah mendirikan sekolah menembak. Menurut mantan rekannya di Polres Depok,Aiptu Bagus Suwardi (Babinsa Kelurahan Pasir Gunung Selatan),Sofyan diberhentikan dengan tidak hormat sebagai anggota polisi tahun 2008. Penyebabnya karena tidak menjalankan tugas selama tiga bulan berturut-turut.

“Terakhir pangkatnya brigadir dan bertugas di Samapta,”ujar Bagus di kediaman Sofyan di Perumahan Citra Elok Residence,Jalan Bukit RT/RW 3/7, Pasir Gunung Selatan, Cimanggis, Depok, kemarin. Bagus mengakui Sofyan sebagai sosok yang ramah dan menjalankan tugas dengan baik.Namun, seusai ditugaskan di Aceh tahun 2004, Sofyan sering tidak menjalankan tugas di Polres Depok. “Saat bertugas di Aceh, dia menyunting perempuan sana, jadi sering bolak-balik ke sana, istri dan mertuanya di sana,”ujarnya. Mengenai sangkaan Sofyan pernah mendirikan sekolah menembak, Bagus mengaku tidak tahu. Sepengetahuan Bagus, setelah tidak menjadi polisi Sofyan berdagang senjata mainan.

“Dia bilang ke saya untungnya lumayan gede,sekitar Rp3,5 juta per bulan,” ungkap Bagus. Saat menyambangi kediaman Sofyan,terlihat sepucuk senjata api laraspanjangjenisSS-1sepertibuatan Pindad terpajang di lemari ruang tamu rumahnya. Namun, tidak dapat dipastikan apakah senjata tersebut asli atau senjata mainan.Di dalam lemari terpajang sejumlah Alquran dan buku-buku agama. Asti, istri Sofyan, sempat menemui wartawan yang menyambangi kediamannya. Saat ditanya mengenai keberadaan Sofyan, dia mengatakan suaminya tidak ada di rumah.“Saya tidak tahu (apakah benar Sofyan ditangkap atau tidak), sampai sekarang tidak ada pemberitahuan,” ujar ibu tiga anak ini langsung menutup pintu rumahnya.

Tersangka teroris lainnya, Bakti Rasna alias Abu Haikal alias Daon, diketahui tinggal di Blok F2 No 16 RT/RW 2/2, kompleks Perumahan Pondok Sukmajaya Permai, Depok. Ketua RW 2 Sukmajaya, Ruslan mengatakan keluarga Bakti sudah tinggal di kompleks tersebut sejak 1997 lalu. Selama tinggal di sana, sosok Bakti mengaku sebagai dosen Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Pancasila (UP). Dalam kesehariannya, Daon (sapaan akrab Bakti) selalu mengenakan pakaian gamis. Dalam masalah agama, dia juga dikenal punya pendirian kukuh. Daon berulang kali ribut mulut dengan tetangganya karena masalah agama. “Saya sering diomeli dia karena melepas jilbab,” ujar Dina, salah seorang tetangga Daon.

Saat disambangi pagi hari kemarin, istri Daon, dr Rozamon Anwar, sempat terlihat di dalam rumahnya.Namun,setelah mengetahui kedatangan wartawan, dokter di rumah sakit ternama di Depok ini keluar dengan mobil Toyota Yaris warna hitam benomor polisi B 2387 UE. Dian, kakak kandung Rozamon, yang ditemui wartawan mengatakan hingga saat ini pihak keluarga belum menerima pemberitahuan penangkapan Bakti. Penangkapan tersebut diketahui mereka hanya dari televisi. “Sejak mengetahui penangkapan adik, saya selalu menangis.

Tapi sampai sekarang belum ada pemberitahuan resminya,” ujar Dian yang mengaku sengaja datang dari kampungnya di Sumatera Barat. (sucipto/kholil/a fajri hidayat/ isfairi hikmat/m abduh)