|
||||||||||||||||||
| TNI-Polri Gelar Latihan Gabungan Antiteror |
|
|
| Friday, 12 March 2010 | |
|
JAKARTA (SI)- Aparat keamanan tidak mau lagi kecolongan aksi terorisme.
Untuk meningkatkan kewaspadaan dan mengasah kemampuan, TNI dan Polri
menggelar latihan gabungan antiteror. Latihan berlangsung 11-13 Maret di Jakarta dan sekitarnya. Latihan gabungan bersandi Waspada Nusa II itu kemarin secara resmi dibuka dalam gelar pasukan pengamanan antiteror di Monumen Nasional (Monas) Jakarta Pusat. Latihan dilakukan dengan target terwujudnya rencana operasi penanggulangan teror secara terpadu berdasarkan rencana tindakan kontingensi Mabes TNI dan Mabes Polri terhadap kemungkinan ancaman terorisme di wilayah Indonesia. Kapolri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri mengatakan, latihan gabungan dimaksudkan untuk meningkatkan profesionalisme TNI dan Polri dalam mengantisipasi dan penanggulangan aksi terorisme di Indonesia secara komprehensif dan integral. “Ini merupakan wujud keseriusan negara dan pemerintah memberikan perlindungan masyarakat terhadap aksi terorisme,”ujarnya. Selain Kapolri dan jajarannya, pembukaan latihan juga dihadiri sejumlah pimpinan TNI, yaitu Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso, KSAU Marsekal TNI Imam Sufaat, KSAD Jenderal George Toisutta, KSAL Laksamana TNI Agus Suharsono. Tampak pula Wakil Gubernur DKI Jakarta Mayjen Purn Prijanto. Kapolri menyatakan,TNI dan Polri merupakan ujung tombak penegakan hukum pertahanan negara. Kelestarian bangsa Indonesia bagi TNI dan Polri merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar lagi. Melalui latihan ini, dia berharap kemampuan deteksi dini TNI dan Polri untuk menghadapi ancaman, khususnya terorisme, semakin meningkat. Saat ditanya apakah latihan sebagai persiapan menyambut kedatangan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama,Kapolri secara tegas membantah.” Latihan ini direncanakan setiap tahun. Jadi, tidak untuk kedatangan Presiden Amerika saja, tapi penggelaran kegiatan TNI-Polri,” tegasnya. Senada dengan itu, Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso menegaskan bahwa latihan gabungan kali kedua sejak 2008 ini merupakan latihan berkala dan tidak ada hubungan sama sekali dengan rencana kedatangan Obama pada 20-22 Maret nanti. Menurutnya, latihan ini salah satunya dilatarbelakangi serangan teroris di Bombay, India, beberapa waktu lalu. “Karenanya kita adakan latihan ini tiap tahun sehingga jika ada serangan seperti itu kita siap,” ujar Djoko. Berdasar rilis Komando Geladi Markas Besar TNI dan Polri, skenario latihan gabungan akan dilaksanakan secara serentak pada Sabtu (13/3). Rencananya latihan dilaksanakan di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI),Hotel Borobudur, Hotel Mercure Ancol, Bandara Soekarno Hatta, kapal supertanker di Teluk Jakarta, dan pengeboran minyak di Kepulauan Seribu. Skenarionya, keenam lokasi itu diserang dan diduduki kelompok teroris secara bersamaan sehingga TNI dan Polri menurunkan personelnya untuk mengatasi hal itu. Serangan pertama terjadi di lokasi pengeboran minyak. Di instalasi vital tersebut, teroris menyandera sejumlah warga negara asing. Merespons aksi tersebut, TNI memerintahkan Detasemen Jala Mangkara (Denjaka) TNI AL untuk menindak aksi teroris dan membebaskan para sandera. Untuk membebaskan kapal supertanker yang dibajak teroris di perairan Teluk Jakarta,TNI mengerahkan personel dari Komando Pasukan Katak TNI AL. Aksi penyanderaan dan pendudukan Gedung BEI diatasi gabungan personel Intai Tempur (Taipur) Kostrad TNI AD dan Detasemen Khusus 88/Antiteror Polda Metro Jaya. Adapun penindakan teroris yang menduduki Hotel Borobudur dilakukan oleh personel Intai Keamanan (Taikam) Brigade Infanteri 1/Pengamanan Ibu Kota Kodam Jaya dan Detasemen Khusus 88. Untuk menanggulangi aksi teror di Hotel Mercure, TNI dan Polri mengerahkan personel dari Taikam Brigade Infanteri 1/Pengamanan Ibu Kota Kodam Jaya dan Satuan Gegana Brimob Polri.Pada kasus pembajakan pesawat di Bandara Soeta,TNI dan Polri bersamasama bertindak dengan mengerahkan personel dari Satuan 81 Kopassus, Detasemen Bravo TNI AU, dan Detasemen Khusus 88 Polri. Latihan gabungan itu tidak saja memperagakan saat penindakan terhadap teroris, tapi juga melakukan simulasi pengamanan lokasi kejadian, identifikasi korban, dan olah tempat kejadian perkara. Karena itu,unsur Polri selalu hadir dalam setiap aksi terorisme kendati yang melakukan penindakan adalah TNI. Selain Brimob dan Detasemen Khusus 88,Polri juga menurunkan personil dari unsur intelijen,Pusat Identifikasi, Pusat Laboratorium Forensik, Pusat Kedokteran Kepolisian, Samapta, Polisi Udara, Polisi Lalu Lintas,Direktorat Pengamanan Objek Khusus,Polisi Perairan, Divisi Humas,dan Divisi Bina Mitra. Di Bali, Obama Kunjungi 3-4 Lokasi Sementara itu, Presiden AS Barack Obama dipastikan mengunjungi 3-4 lokasi selama kunjungannya ke Bali. Informasi itu disampaikan Kapolda Bali Irjen Pol Sutisna. “Akan ada 3-4 titik yang dikunjungi Presiden Obama,” kata dia seusai menggelar pertemuan koordinasi dengan Kapolres se-Bali dan Pemda Badung terkait rencana kunjungan Presiden Obama di Mapolda Bali kemarin. Dia mengaku belum mengetahui empat lokasi yang akan dikunjungi presiden negara adidaya itu. Namun berdasarkan informasi intelijen, keempat tempat itu di antaranya objek wisata Uluwatu dan Kampus Universitas Udayana. Adapun lokasi menginapnya berada di Nusa Dua. Kepastian Presiden Obama berkunjung ke Uluwatu juga diperoleh dari Kepala Bidang Humas Pemda Badung Gde Wijaya. (sucipto/ miftachul chusna/ant) |