|
||||||||||||||||||
| Proyek Kolam Retensi Dipercepat |
|
|
| Thursday, 11 March 2010 | |
|
SEMARANG(SI) – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah membuktikan tekadnya
menangani banjir di Semarang yang kian waktu kian parah.Pekan depan
proyek kolam retensi di Muara Kali Semarang,Kelurahan Panggung
Lor,Semarang Utara akan dimulai.
Proyek senilai Rp164 miliar yang merupakan bagian megaproyek penanganan banjir di Kota Semarang tersebut akan selesai dalam dua tahun ke depan atau lebih cepat satu tahun dari rencana. ”Sebenarnya target maksimal tiga tahun, namun kami upayakan dalam dua tahun sudah selesai. Kasihan masyarakat yang sudah terlalu lama menjadi langganan banjir,”ujar Kepala Dinas Cipta Karya, Permukiman, dan Tata Ruang (Kimtaru) Jateng HM Tamzil kemarin Peletakan batu pertama rencananya akan dilakukan secara simbolis oleh Gubernur Bibit Waluyo, Jumat (19/3).Kolam retensi seluas 8,1 hektare (ha) dan memiliki kedalaman 4 meter itu nantinya diperkirakan mampu menampung air pasang hingga 324.000 meter kubik (m3). Dengan kolam retensi itu, nantinya daerah aliran Kali Semarang,Kali Asin,dan Kali Baru akan berakhir di kolam dan selanjutnya disedot dengan enam pompa air berkapasitas 35 m3/- detik. Proyek fisik senilai Rp164 miliar tersebut sepenuhnya dibiayai Japan Bank for International Cooperation (JBIC). Pemerintah hanya menanggung biaya pembebasan lahannya, dengan persentase pemerintah pusat 50%. Sementara Pemprov Jateng dan Pemkot Semarang masing-masing 25%,”paparnya. Selain pemerintah, pengelolaan polder diupayakan melibatkan pihak swasta dan melibatkan warga. Dengan begitu, biaya pembangunan diharapkan bisa lebih ditekan. “Pengusaha bisa menjadi pengawas atau komisaris.Saya kira pengelolaan bersama lebih baik. Kalau ada pengusaha, hitungan bisnisnya masuk,”ujar dia. Kolam retensi serupa sedang siap-siap dibangun di muara Kali Banger, Semarang Timur. Pembangunan retensi Kali Banger akan menghabiskan biaya Rp80 miliar. Dananya berasal dari dana hibah Pemerintah Belanda, dan sisanya dari anggaran pendapatan dan belanja negara. HM Tamzil berharap kolam retensi bisa membantu membebaskan Semarang dari dari banjir dan rob. Penanganan banjir Semarang seharusnya tidak hanya mengandalkan polder.Ke depan,dia berharap ada tanggul yang dibangun di sepanjang jalan arteri. Mulai dari daerah Kalibanteng hingga pelabuhan. “Dengan adanya polder, paling tidak air bisa terkontrol.Tapi tanggul harus tetap ada, seperti penanganan banjir di Belanda,”katanya. Proyek tersebut dijadwalkan rampung pada 2013. Anggota Komisi D DPRD Jateng Alwin Basri meminta agar permasalahan banjir dan rob di Kota Semarang dijadikan sebagai priorotas program pemerintah. Sebab, pembangunan Waduk Jatibarang, normalisasi Kali Banjirkanal Barat dan Timur, serta pembangunan kolam retensi memang sudah sangat mendesak dilakukan. Itu karena kerugian yang diakibatkan oleh banjir yang terjadi hampir setiap tahun sudah sangat besar. ”Pencanangan berbagai proyek di Kota Semarang oleh Menteri Pekerjaan Umum beberapa waktu lalu telah menimbulkan harapan di hati masyarakat. Jangan sampai harapan tersebut berubah menjadi harapan hampa dan berubah menjadi kekecewaan,”tandasnya. (khusnul huda/muh slamet) |