|
||||||||||||||||||
| Presiden SBY Janji Terus Perangi Terorisme |
|
|
| Thursday, 11 March 2010 | |
|
CANBERRA(SI) – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menegaskan bahwa
Indonesia akan terus memerangi terorisme dan memenjarakan pelaku teror
penyelundupan manusia.Pernyataan ini disampaikan SBY di depan parlemen
Australia kemarin. ”Kami (Indonesia) akan melanjutkan upaya melumpuhkan teroris.Kami akan berbuat semaksimal mungkin untuk mencegah aksi terorisme,” paparnya. SBY berjanji terus menekan kelompok-kelompok teroris, termasuk kelompok Jamaah Islamiyah (JI),dalang Bom Bali 2002 yang menewaskan 202 orang, termasuk 88 warga Australia.“Kemarin polisi kami menyerbu sel teroris di pinggiran Jakarta. Dalam berbagai kasus,Pemerintah Indonesia akan melanjutkan memburu mereka dan melakukan segala cara yang dapat kami lakukan untuk mencegah mereka melukai rakyat kami,”ujar SBY. Perdana Menteri (PM) Australia Kevin Rudd memuji langkah Pemerintah Indonesia dalam memerangi terorisme. Dia menilai operasi pemberantasan terorisme (yang menewaskan Dulmatin) sangat profesional dan menjadi puncak operasi sukses lain dalam beberapa waktu terakhir. “Terobosan yang dibuat Indonesia dalam melemahkan berbagai jaringan teroris itu merupakan langkah yang sangat penting,” kata Rudd dalam konferensi pers bersama SBY. Mengenai penyelundupan manusia, kendati menganggap Indonesia sudah cukup berhasil mengatasinya, Rudd menilai Indonesia belum memiliki undang-undang kriminal yang cukup kuat untuk menjerat pelaku kejahatan ini.Walau begitu, Rudd menghargai Indonesia yang tengah merencanakan undangundang baru yang akan memenjarakan pelaku penyelundupan manusia hingga lima tahun. “Kita akhirnya menghasilkan mekanisme bilateral untuk bekerja sama menyelesaikan masalah ini, sehingga di masa depan kasus-kasus penyelundupan manusia dapat diatasi secara lebih terkoordinasi dan terencana,” papar Rudd. Pemerintah Australia banyak menangkap kapal-kapal yang membawa manusia selundupan. Australia merasa kewalahan dengan banyaknya kasus penyelundupan manusia yang melalui wilayah perairan Indonesia menuju Negeri Kanguru.Mereka biasanya berasal dari zona-zona konflik dan negara yang mengalami krisis ekonomi, seperti Irak, Afghanistan, Iran,dan banyak negara lain. Dalam pidatonya SBY juga mengingatkan pentingnya Indonesia dan Australia untuk meningkatkan kerja sama.Purnawirawan jenderal ini optimistis harapan itu terwujud karena kedua negara memiliki kesepahaman.Menurutnya, kedua negara punya tujuan yang sama, yaitu menyuarakan demokrasi kepada negara-negara di dunia. Pidato SBY ini menjadi catatan bersejarah dalam hubungan Indonesia-Australia. Inilah kali pertama presiden dari Indonesia yang diberi kesempatan berpidato di depan 220 anggota parlemen dan senator di Gedung Parlemen Australia.Pidato SBY di hadapan parlemen Australia menandai pencapaian luar biasa dalam hubungan Australia-Indonesia. “Ini menjadi simbol betapa eratnya hubungan kedua negara,” tutur Rudd. Sepanjang sejarah 109 tahun Australia,hanya ada lima pemimpin negara asing yang diberi kesempatan menyampaikan pidato di sana,yaitu mantan Presiden AS Bill Clinton (November 1996), George Bush (Januari 1992),George W Bush (2008), Perdana Menteri Kanada Stephen Harper( September 2007), serta mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair (Maret 2006). Pidato presiden SBY di depan parlemen merupakan salah satu agenda terpenting dalam kunjungan tiga hari ke Negeri Kanguru itu. Agenda lain berupa pembicaraan mengenai kerja sama bilateral, upaya menangkal penyelundupan manusia, ekstradisi, serta kesepakatan mengenai consular notification atau pemberitahuan konsuler tentang penanganan WNI yang tertangkap di wilayah Australia. Sebelumnya, Selasa (9/3), Pemerintah Australia menganugerahi Presiden SBY dengan tanda jasa tertinggi untuk warga sipil, Order of Australia. SBY meraih Order of Australia karena telah berhasil menumpas imigran gelap dan aksi penyelundupan manusia. Kevin Rudd menilai kunjungan SBY ke Australia menandai hubungan kedua negara telah meningkat ke level baru. Dia menilai Indonesia dan Australia secara dramatis memperbaiki hubungan yang sebelumnya selalu diwarnai serangkaian konflik. SBY menilai kedua pihak mengalami kemajuan dari hubungan “cinta-benci” menjadi hubungan strategis, saat kedua negara memperbaiki pertukaran dan kerja sama dalam potensi kesepakatan perdagangan bebas. Walau begitu,SBY memperingatkan bahwa kedua negara harus melenyapkan “stereotip lama” yang menggambarkan Indonesia sebagai kediktatoran militer dan Australia sebagai prokulit putih. (AFP/Rtr/anastasia ika) |