|
||||||||||||||||||
| Warga Nias Berduyun-duyun Minta Diperiksa |
|
|
| Wednesday, 10 March 2010 | |
|
MEDAN (SI) – Ancaman rabies yang ditularkan anjing gila semakin
menakutkan masyarakat Nias. Pascakematian empat warga, termasuk
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Kandikes) Nias Utara,
Kristian Zai, dan tiga lagi menjalani perawatan, warga berduyun-duyun
minta diperiksa kesehatannya.
Kepala Unit Penyakit Dalam yang juga Ketua Komite Medik Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Gunungsitoli dr Kaserina Dakhi menyatakan, hingga kemarin, pihaknya menerima tiga pasien baru yang digigit anjing gila. Namun, karena stok vaksin antirabies (VAR) belum sampai ke rumah sakit yang dipimpinnya, ketiga pasien hanya bisa dirawat seadanya. “Jadi,kami akan rawat hingga VAR tiba. Sekarang kondisi di sini sangat luar biasa karena masyarakat jadi ketakutan. Mereka semua minta diperiksa. Kita paham (atas kecemasan masyarakat), namun kami berharap VAR segera didrop kemari,” katanya kepada harian Seputar Indonesia (SI) kemarin. Dengan masuknya tiga pasien tersebut, maka sudah tujuh kasus penderita rabies yang ditangani RSUD Gunungsitoli, empat di antaranya meninggal, termasuk Kristian Zai. Pengelola Program Rabies Dinkes Sumut Juni Pandia mengatakan, pihaknya bersama petugas dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mendrop VAR, sekaligus menyosialisasikan bagaimana penanganan pasien rabies kepada kepala bidang kesehatan di Nias. “Kami juga mengimbau pemusnahan anjing gila di sini. Soal stok, saat ini masih ada di Dinkes Nias dan mereka yang akan menshare vaksin tersebut,” katanya saat dihubungi SI. Juni yang mengaku sedang dalam perjalanan dari Nias menuju Medan mengungkapkan, saat ini masyarakat Nias heboh dan cemas atas meninggalnya Kadinkes Nias Utara akibat digigit anjing gila.“Semua minta vaksin, sementara stok kita terbatas,” timpalnya. Dari beberapa laporan di Nias Utara, ada penambahan jumlah korban gigitan anjing gila, hanya pihaknya belum menerima laporan jumlah pastinya. “Di Dinkes sana masih sibuk merekap. Kami belum bisa mengatakan ada penambahan, meski laporan secara lisan ada dan kami belum mendatanya,” jelasnya. Kepala Seksi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang (P3B2) Dinas Kesehatan Sumut Suhardiono mengatakan, Kemenkes sangat terkejut dengan kondisi di Nias, terutama Nias Utara pascameninggalnya Kristian Zai. Makanya, Menteri Kesehatan (Menkes) Endang Rahayu Sedyaningsih mengutus pejabatnya ke Nias untuk mendrop VAR sebanyak 75 kuur. “Semuanya vaksin dipusatkan di Nias yang akan di-share ke lima kabupaten/kota di sana dan mereka akan membagi sesuai kebutuhan masing-masing,” ujarnya. Berkaca dari kasus rabies di Nias juga, pejabat Kemenkes akan menggelar rapat koordinasi pada Jumat (12/3) mendatang di Medan bersama Dinas Peternakan. “Akan ada Dirjen (Direktur Jenderal) untuk membahas kasus ini juga,” tukasnya. Lebih dari itu, menurut Suhardiono, kasus ini juga harus menjadi memacu kabupaten/kota untuk menganggarkan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sendiri, tidak tergantung dari pemerintah provinsi. “Sebab vaksin memang terbatas dan di pusat juga terkendala dana. Makanya, pemerintah kabupaten/kota yang berinisiatif untuk mengalokasikan dananya untuk membeli vaksin,” ungkapnya. Sementara itu, Dinas Peternakan Sumatera Utara (Sumut) mengeluarkan surat rekomendasi untuk menghentikan aktivitas pengiriman keluar maupun masuk ke Nias binatang yang berpotensi rabies, seperti anjing, kucing dan kera. Ini dilakukan untuk mengantisipasi penularan rabies di Nias yang saat ini berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB). Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Sumut Mulkan Harahap mengatakan,pihaknya telah membuat surat rekomendasi yang telah diserahkan ke Bagian Biro Hukum Pemerintah Provinsi Sumut (Pemprovsu). Surat rekomendasi itu diharapkan menjadi surat keputusan (SK) agar memperkuat tindakan penghentian pengiriman hewan. Menurut dia, pada 14 Februari lalu,Wali Kota Gunungsitoli juga telah memberikan surat edaran untuk menghentikan keluar masuknya tiga jenis binatang tersebut. “SK ini sifatnya bisa dilaksanakan secara menyeluruh, termasuk di lima kabupaten/kota di Nias, sedangkan surat edaran yang ada baru hanya untuk di Gunungsitoli,” tukasnya. Di samping itu, sambil menunggu SK tersebut terbit, pihaknya sudah mengambil tindakan seperti pengiriman 10.000 vaksin untuk anjing, pelatihan untuk vaksinator sebanyak enam orang di Nias Selatan, 10 orang di Nias, sedangkan di Gunungsitoli sudah ada empat vaksinator. “Besok (hari ini), sebanyak 8.500 dosis vaksin untuk anjing akan didrop ke Nias sekaligus memberikan pelatihan. Di Nias sendiri disediakan 40.000 vaksin yang sudah terpakai 10.000 plus 8.500 yang akan didrop, jadi sisanya 22.500,” jelasnya. Dari 8.500, 2.000 di antaranya akan diberikan ke Gunungsitoli. Sedangkan untuk Sumut, ada 50.000 vaksin yang disediakan Kemenkes untuk 33 kabupaten/ kota di Sumut. Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Pemprovsu Eddy Sofyan menjelaskan, sejatinya penghentian lalu lintas hewan berpotensi rabies itu bisa dilakukan Dinas Peternakan tanpa harus menunggu SK dari gubernur. Sebab, Dinas Pertenakan merupakan perpanjangtanganan Pemprovsu. “Tanpa itu (SK) pun Dinas pertenakan bisa melakukan action sendiri. Lagipula, gubernur sedang menjalankan umrah. Jadi,silakan saja Dinas Peternakan mengambil kebijakan sendiri,” ujarnya. (nina rialita) |