VALAS

KURS

JUAL

BELI

USD9100.008850.00
SGD7229.807214.80
AUD9828.759523.75
JPY118.58114.12
9-Feb-2012 / 10:42 WIB

 
Sandal China Serbu Pasar Sidoarjo PDF Print
Tuesday, 09 March 2010
SURABAYA(SI) – Dampak perdagangan bebas antara negara-negara ASEAN-China (ASEAN-China Free Trade Agreement/ACFTA) benar-benar membuat produk lokal tergerus,tak terkecuali industri kecil menengah (IKM) di Jawa Timur.

Penelusuran Seputar Indonesia menunjukkan, sejumlah pelaku usaha kini bahkan harus menjual produk China lantaran harganya sangat kompetitif dan margin keuntungan yang didapat juga besar.Ini terjadi seperti di Kecamatan Waru, Sidoarjo. Salah satu sentra industri sandal dan sepatu yang sangat jaya pada era 80-an hingga 90-an kini seolah berubah “wajah”. Jika dulu 100% barang yang dipasarkan adalah sandal dan sepatu produksi perajin lokal,kini tak lagi.Sandal dan sepatu China telah “mejeng” di etalase-etalase toko pedagang.

Fauzi,warga RT-5/RW-2,Dusun Ngeni,Desa Kepuh Kiriman,Kecamatan Waru, merupakan salah satu dari ratusan perajin di Waru yang ”terpaksa”menjual sandal dan sepatu China, bersaing dengan sandal dan sepatu merek Miracle ciptaannya. Suatu hal yang tak pernah terbayangkan lantaran sebelumnya dia adalah pemasok untuk pedagang grosir di Pasar Turi dan sejumlah pedagang dari luar Jawa.

”Sudah sebulan ini saya menjual sandal China. Saya ambil dari seorang importir di Kenjeran. Saya tetap memproduksi sandal sendiri, tapi jumlahnya tidak banyak, ya untuk pelengkap dagangan saja,” ungkap Fauzi saat ditemui di tokonya kemarin. Menurut dia,harga sandal produksi negeri tirai bambu antara Rp5.000–Rp25.000. ”Kalau saya jual Rp5.000, saya ambil dari importir hanya Rp4.000.

Meski untung seribu, tapi berlipat-lipat. Sebab, sandal China laku keras,”sambungnya. Menurut dia,warga lebih m-emilih sandal China karena kuat. ”Mereka menggunakan cor,bukan dijahit atau dilem sehingga tak mudah rusak. Berbeda dengan sandal bikinan perajin sini yang daya tahannya lebih rendah dibanding buatan China,”katanya.

Fauzi menuturkan tetap memproduksi sandal sendiri demi menjaring pembeli grosir dari luar pulau.Kesulitan yang sama juga diungkapkan Rosad, perajin sepatu dan sandal bermerek Coustic di Jalan Kolonel Sugiono, Ngeni,Kepuh Kiriman. ”Wis ancur-ancuran temen pokok’e. Perdagangan bebas iki jare pemerintah sepele nyatane sepolo k-oyo jare Kartolo (Benar-benar hancur.

Perdagangan bebas ini kata pemerintah sepele, tapi kenyataannya parah seperti pelawak Kartolo),” katanya seraya sesekali mengisap kreteknya dalam-dalam. Pria berkulit hitam ini mengaku pesanannya anjlok hingga sekitar 95%. Sebelum ACFTA diberlakukan, dia biasa melayani pesanan pedagang Pasar Turi 75 kodi (satu kodi berisi 20 pasang sepatu) tiap pekan. Sekarang tidak lagi seperti itu.

Bisa mendapatkan pesanan 25 kodi tiap pekan saja sudah dianggapnya rezeki nomplok. ”Dari 100 perajin di Dusun Ngeni,sekitar 70 sudah kukut,tutup, gulung tikar.Yang 30 lainnya berupaya bertahan meski kembang kempis.Tiap perajin dulunya mempekerjakan karyawan sekitar 15 orang,sekarang hanya 6 orang,”kata salah seorang sesepuh perajin ini.

Karena banyak pekerja yang di- PHK, tak heran jika perajin yang tetap bertahan menjadi jujugan bagi mereka yang tak lagi kerja. ”Banyak karyawan melamar kerja ke saya.Dalam sehari ini (kemarin) saja ada 6 orang minta kerja. Namun bagaimana lagi? Saya tak bisa menerima karena pesanan juga sepi,”kata si perokok berat ini. Rosad cukup bisa memahami jika sandal China laris manis bak kacang goreng. Ini karena murahnya harga dan bagusnya kualitas. (soeprayitno)

 
coverjatim