|
||||||||||||||||||
| Jazz Memang Menyenangkan |
|
|
| Friday, 05 March 2010 | |
|
YANG namanya pesta atau festival memang untuk senang-senang.Di sana bisa berkumpul dengan teman- teman, bernyanyi, bercerita, tukar pikiran atau pengalaman. Dalam festival jazz,ada musisi, penonton, penyelenggara sampai wartawan kumpul bersama untuk jazz.Pendeknya, soal bayar mahal atau sekadarnya, tidak masalah, yang penting senang. Pada festival jazz bertaraf internasional, banyak musisi jazz datang dari berbagai penjuru dunia, berkumpul bersama untuk jam session dan tukar pengalaman. Sambil bersenang-senang, tentu, makin senang jika ada bayaran. Yang penting tidak nombok,ditanggung akomodasi, transpor, sedikit buat oleh-oleh dibawa pulang, cukuplah. Syukur-syukur dibayar lebih dari biasa diterima saat manggung sehari-hari.Namun, apakah ada musisi dibayar pas-pasan? Banyak! Tentu musisi kelas bintang tidak mau dibayar murah dengan fasilitas seadanya. Itu lumrah.Tapi coba cermati atau cari info,apakah bintang yang dibayar paling mahal dalam festival jazz masa kini adalah bintang jazz? Setidaknya musisi yang kadar jazznya masih diperdebatkan. Pengalaman bergaul dengan para musisi jazz yunior dan senior, bisa dikatakan, mereka kelompok seniman musik tidak rewel.Tidak banyak maunya. Sederhana dan gembira. Bayaran dirasa ”standar”, cukuplah. Yang penting bisa main jazz bersama teman musisi lainnya. Memang, tidak semua. Ada yang pasang tarif, kalau tidak sesuai banderolnya, pilih tidak manggung, walau itu festival dunia. Sayangnya,banyak penyelenggara sering keterlaluan, bayar murah musisi jazz. Padahal, mereka bukan musisi murahan. Pada urusan penghargaan, memang, seniman Indonesia layak dikasihani. Mereka menghidupi kegiatan seninya dengan cara masing- masing. Jarang terdengar seniman mendapat bonus seperti terjadi dalam olahraga.Kelakuan penyelenggara membayar murah sudah sejak dahulu dengan alasan klise, jazz kurang diminati. Padahal, itu semua tergantung bagaimana mengelola acara tersebut agar jazz menjadi laku dan diminati. Banyak kegiatan tidak konsisten dan ini terjadi pada mereka bukan jazz sejati. Ireng Maulana dan Beben dengan Komunitas Jazz Kemayoran- nya, salah satu contoh orang jazz yang konsisten pada pilihannya. Contoh ketidakkonsistenan, acara di sebuah televisi sering terlihat ada dan tiada karena pengelolaan tidak profesional. Bahkan, ada stasiun televisi terkesan menyepelekan keberadaan musisi jazz. Musisi disuruh teken kuitansi bertuliskan angka Rp3 juta, tapi yang diterima musisi hanya Rp900.000 untuk satu grup.Ini cerita musisi senior sambil menunjukkan isi amplop.Merasa dilecehkan, jengkel,bubar! Karena musisi senior sudah ogah, sasaran penyelenggaraan beralih ke musisi yunior,relatif masih perlu panggung.Tidak dibayar asal bisa main dan masuk televisi. Tetapi, jika semuanya yunior atau pemula, pertunjukan tidak akan menarik. Ujungnya tidak ada yang menonton. Bukan berarti musisi jazz muda tidak bagus. Banyak yang bagus dan berbakat. Tidak sedikit pemain musik senior tidak berkembang. Tetapi dalam dunia jazz, semakin senior musisi semakin menarik untuk dinikmati permainannya. Ray Brown, contohnya, sebelum sembilan bulan kemudian meninggal ia tampil di panggung North Sea Jazz Festival 2001.Dalam usia 75 tahun,ketika itu, Ray jalan pelan,tertatih-tatih memasuki arena menuju alat musik double bass. Penonton hening, iba, tidak percaya sang maestro sudah sepuh.Apakah ia masih mampu disandari alat bas seukuran badannya, mampukah membetot dawai bas? Namun, begitu musik dimainkan, tepuk tangan membahana untuk permainan sang legenda. Contoh lain dunia jazz menyenangkan, para musisi,bahkan para penikmatnya berkumpul, main bersama dan menonton bersama lewat jam session. Panggung jam session merupakan panggung yang tidak pernah sepi. Dalam sebuah festival,musisi yang main di panggung jam session tidak dibayar dan penonton pun tidak membayar. Ini pertunjukan ekstra, gratis tapi paling berkualitas. Bahkan, kadang panggung tidak disediakan tetapi spontan memakai panggung yang sudah kosong, tidak ada jadwal pertunjukan lagi. Panggung jam session, sering muncul di hari terakhir festival dan saat jam pertunjukan festival sudah selesai.Orang di panggung jam session,baik penonton maupun musisi, bisa dikategorikan sebagai jazz sejati.Bayangkan,acara selalu tengah malam dan selesai menjelang subuh, tetapi arena tetap penuh sesak. Tidak ada yang mengundang, tidak ada melarang musisi ikut bermain dalam panggung tersebut. Setiap musisi boleh bergabung main bersama,bahkan masuk di tengah pertunjukan. Uniknya, dalam arena jam session, mereka datang dari berbagai etnis,tidak selalu saling mengenal, tentu juga tidak pernah latihan bersama, lagu yang dimainkan juga tidak disiapkan sebelumnya.Semua spontan.Namun,mereka bisa bersatu menghasilkan musik yang harmonis bernama jazz. Mereka hanya bicara lewat alat musik yang dimainkan, baru tertawa gembira saling salam, berkenalan setelah coda.Lewat sesi ini mental dan kemampuan bermusik jazz diuji oleh para musisi dan penonton. Dari kemeriahan tersebut, tampak materi bukan segalanya untuk mereka yang menggemari musik jazz. Jazz memang menyenangkan! (*) EDDY KOKO Penikmat Musik Jazz |