|
||||||||||||||||||
| Listrik di RS Padam, 4 Pasien Meninggal |
|
|
| Tuesday, 09 February 2010 | |
|
MEDAN(SI) – Empat pasien Rumah Sakit Umum (RSU) dr
Pirngadi,Medan,Sumatera Utara,meninggal dunia bersamaan dengan padamnya
listrik di rumah sakit tersebut karena korsleting kemarin. Padamnya listrik yang terjadi pukul 09.20 WIB sempat menimbulkan kepanikan di rumah sakit milik Pemerintah Kota Medan itu.Asap hitam tebal dan percikan api terlihat di ruang mesin elektrikal di dekat ruang instalasi gawat darurat (IGD). Sejumlah pasien dan tenaga medis berhamburan keluar ruangan. Bahkan, lima pasien terpaksa harus dievakuasi dari ruang IGD ke area parkir. Padamnya listrik selama tiga jam juga membuat pelayanan di rumah sakit terganggu, khususnya di ruang IGD. Keempat pasien yang meninggal adalah OM Pangaribuan, 83, warga Jalan Pon 3,Medan Kota,dengan diagnosa kanker paru; Very Capri, 19, yang koma karena benturan kepala; Herbert Lumban Tobing, 73, penderita penyakit jantung; dan bayi usia tiga hari, anak dari Duriati, dengan diagnosa aspiksia (gagal bernapas secara spontan dan teratur saat lahir). Terkait kejadian itu,Pelaksana Harian Direktur Utama (Dirut) RSU dr Pirngadi Dewi Fauzyah Syahnan langsung menggelar konferensi pers di kantornya. Dia mengatakan, pasien bernama Herbert Lumban Tobing sudah meninggal sebelum pemadaman listrik. “Ketika dia exit pukul 08.30 dan ketika mau dibawa turun ke lantai bawah,listrik padam sehingga lift tidak dapat dipergunakan,” katanya. Untuk OM Pangaribuan,ketika datang sudah dalam keadaan kritis dan kanker parunya berada pada stadium 4.“Pasien ini dirujuk ke rumah sakit ini sejak Jumat (5/2) dari RS Elisabeth,Medan.Saat listrik padam pasien sedang dirawat di ruang ICU dan sedang diberi tindakan medis berupa alat bantu respirator oleh dokter Tumbur,”jelasnya. Sedangkan pasien bernama Very Capri, ujar Dewi, meninggal setelah mengalami masa-masa kritis.Pasien tersebut sudah dalam kondisi koma karena benturan keras di kepala saat kecelakaan lalu lintas. Sementara bayi dari Duriati meninggal di lantai IV ruangan perinatologi dikarenakan penyumbatan saluran napas. “Kami sudah memberikan pertolongan seperti memberikan alat bantu tabung oksigen.Namun,akhirnya meninggal sekitar pukul 13.30, setelah listrik kembali normal,”katanya. Dewi mengakui, korsleting hingga mengakibatkan terhentinya peralatan medis yang beroperasi di RSU Pirngadi menjadi faktor penyebab kematian keempat pasien. “Ada,tapi sedikit,”tandas Dewi. Adapun Juru Bicara Dirut RSU Dr Pirngadi, Susyanto menambahkan, pihaknya sudah mencoba untuk mengevakuasi sejumlah pasien yang berada dalam kondisi darurat. “Sesudah accident, kami langsung menghubungi seluruh rumah sakit, baik swasta maupun pemerintah, agar mempersiapkan ruangan ICU untuk pasien kami. Namun, tidak ada sama sekali ruangan ICU di rumah sakit-rumah sakit itu yang kosong,”ungkapnya. Kalau pun ada yang sanggup menampung, hanya di RS Herna dan untuk sekali menginap biayanya mencapai Rp5 juta. Akibat terjadinya peristiwa yang tidak dinginkan itu, tim medis menunda operasi untuk beberapa pasien. Pada kesempatan yang sama Kepala Urusan Listrik RSU dr Pirngadi Irwansyah menuturkan, pihaknya akan melakukan upaya pembenahan. Di antaranya membuat jalur listrik tersendiri (khusus) untuk ruangan ICU yang dikategorikan darurat. Menurut dia,kejadian itu dikarenakan pemadaman listrik dari PLN dan terjadi masalah di meteran ketika proses pergantian suplai listrik dari PLN ke genset.“Listrik menyala sekitar pukul 12.00 tapi kembali padam 15 menit berikutnya. Dan kembali normal sekitar pukul 12.30,”ungkapnya. Sesaat setelah korsleting,petugas keamanan dan elektrikal rumah sakit dengan cepat menyemprotkan racun api sehingga percikan api tidak meluas. Pihak rumah sakit juga membagikan masker agar bau dari korsleting tidak terhirup pasien dan pengunjung. Korsleting juga mengakibatkan lift tidak beroperasi. Dua pasien dan 13 pengunjung bersama tenaga medis sempat terjebak di dalam lift antara lantai 1 dan 6. “Semuanya terkurung dan Alhamdulillah sudah kita evakuasi dengan baik,” tandas Susyanto. Sementara untuk perbaikan pihaknya sudah berkoordinasi dengan PLN dan teknisi lift. Saat kejadian kebetulan anggota Komisi B DPRD Medan T Bahrumsyah sedang mengantarkan pasien gizi buruk dari Belawan. Melihat kepanikan, dia menilai pihak RSU dr Pirngadi tidak melakukan tindakan yang maksimal dalam menyikapi peristiwa tersebut. Dia meminta rumah sakit semestinya memiliki cadangan listrik. Dia menyayangkan, saat kejadian itu, pasien yang semestinya mendapat perawatan dan perhatian yang maksimal malah terabaikan. “ Kita lihat saja,bukan pasiennya yang diurus.Perawat-perawatnya dulu yang memakai masker,seharusnya pasien dulu yang lebih diutamakan,” katanya. (nina rialita) |