VALAS

KURS

JUAL

BELI

USD9125.00 8875.00
SGD7185.82 7170.82 
AUD9810.20 9506.20 
JPY118.25 113.83 
10-Feb-2012 / 11:40 WIB

 
Fashion in RED PDF Print
Monday, 08 February 2010
Image

MENJELANG perayaan Tahun Baru China,warnamerah menyala dan motif-motif oriental kontan terlintas di kepala.Ya,tahun baru China memang identik dengan segala hal yang beraroma oriental, mulai busana cheongsam hingga lambang naga.


Ciri khas oriental tersebut tampil kental di pergelaran Fashion in Red, kerja sama Plaza Indonesia dan butik kompilasi Gaya The Designer’s Corner. “Fashion show ini merupakan bagian dari rangkaian acara menyambut Imlek 2010 dari Plaza Indonesia. Kami berharap pergelaran busana ini dapat menjadi inspirasi bagi pencinta mode di Jakarta untuk bergaya di tahun baru China,” ujar Marketing Communication Manager Plaza Indonesia Chorie Arland.

Senada dengan Chorie, Herlina Hutasoid dari Gaya The Designers Corner mengatakan bahwa melalui fashion show tersebut, Plaza Indonesia diharapkan dapat membantu mengangkat hasil kreativitas perancang busana negeri sendiri. “Dengan begitu, fashionista Indonesia bisa bergaya saat Imlek menggunakan hasil karya anak negeri,” katanya. Dalam acara tersebut, Edward Hutabarat, desainer yang mengangkat popularitas batik ke ranah fashion kontemporer, meluncurkan buku fashion berjudul Backstage. Dalam sambutan singkatnya, desainer yang akrab disapa Edo ini mengatakan bahwa Backstage merupakan buku mengenai women empowerment, di mana wanita-wanita yang bekerja di belakang layar ikut memajukan negeri.

“Kekuatan wanita-wanita di belakang layar yang selama ini tidak teperhatikan sebenarnya sedahsyat kekuatan nuklir; dan dengan kekuatan itu,mereka ikut membangun bangsa dan memajukan negeri ini,” sebut Edo, yang mengerjakan bukunya bersama editor mode dari majalah Harper’s Bazaar Boedi Basuki serta fotografer senior John Suryaatmadja. Dalam acara tersebut, Edo juga menyerahkan buku kepada tokoh mode Indonesia Pia Alisjahbana, sembari mengatakan bahwa Backstage tersedia di butik Gaya. Di atas catwalk, Plaza Indonesia dan Gaya mempersembahkan koleksi lima desainer, yaitu Ghea Panggabean, Ina Thomas, Jan Handrianto, Agnes Budhisurya, serta koleksi lini sekunder Musa Widyatmodjo,M by Musa.

Ghea membuka pergelaran bertajuk “Indo-Chinoiserie” yang merupakan kombinasi gaya etnik khas Ghea dengan nafas oriental. Ghea mengatakan koleksinya terinspirasi dari budaya Padang dan China yang terlihat dari penggunaan warna merah menyala. “Motif Indonesia yang saya angkat kali ini adalah motif Selendang Padang sementara sisi orientalnya saya ambil dari gaya bordir China,” ujar desainer yang tahun ini genap berkiprah selama 30 tahun di ranah mode Tanah Air. Motif Selendang Padang berbordir emas diaplikasikan Ghea pada gaya masa kini dengan potongan blus longgar, tunik, serta gaun malam bergaya cheongsam.

Gaya oriental-etnik Ghea tampak kontras dengan nafas bohemian chic yang dihadirkan Ina Thomas. Untuk koleksinya yang lebih bernafas kontemporer, Ina mengatakan bahwa dirinya mengambil inspirasi dari Imlek yang jatuh bertepatan dengan Valentine. “Koleksi ini memang terinspirasi dari suasana kasih sayang dan kemeriahan suasana menyambut tahun baru Imlek,” ujar Ina, yang juga mengeluarkan koleksi dengan dominasi merah.“Kenapa merah? Karena merah selain identik dengan nuansa tahun baru China, juga merupakan warna lambang cinta,” papar istri aktor Jeremy Thomas itu.Adapun memasukkan unsur etnis Indonesia ke dalam rancangannya, Ina menggunakan motif tradisional Bali yang merefleksikan eksotisme Pulau Dewata.

Merah juga menjadi pilihan Jan Handrianto.Tema “La Vie en Rose” yang dihadirkannya terinspirasi dari keindahan bunga di musim semi.Karena itu, tak heran bila model-model untuk koleksi Jan, tampil di catwalk dengan membawa buket bunga yang semakin menegaskan aura romantis di bulan kasih sayang. Bila Jan lebih menonjolkan gaya glamor dalam busana pesta, Musa sebaliknya, lebih wearable. Koleksinya yang bertema “Lady Orient” merupakan penerjemahan chinese look dalam wajah yang lebih kontemporer.

Untuk itu, Musa memadukan elemen khas budaya China, yakni warna merah,kemewahan material,serta detail craftmanship yang dikemasnya dalam bentuk sederhana sehingga menjadi busana berdaya pakai tinggi. Adapun Agnes Budhisurya yang menutup pergelaran menampilkan dua sisi warna merah,yakni karakter kuat nan berapi-api serta sisi romantis, lewat enam evening wear yang disajikannya.

Agnes yang juga menampilkan koleksi perhiasan bergaya chinese etnic glam dari Aarti–-hasil kerja samanya dengan desainer perhiasan Ariani Prajasaputra––menggunakan kombinasi beberapa warna untuk mengungkap dua sisi merah, seperti hitam,pink,serta ungu, juga tidak lupa motif lukisan di atas kain yang menjadi ciri khas Agnes.(lesthia kertopati)