|
||||||||||||||||||
| Transportasi DKI Butuh Konsistensi |
|
|
| Tuesday, 26 January 2010 | |
|
JAKARTA(SI) – Kemacetan selalu menjadi kendala utama di wilayah DKI
Jakarta. ealisasi pola transportasi makro yang dicanangkan beberapa
tahun lalu hingga kini masih tersendat. Tak pelak,untuk berkendara di Ibu Kota dibutuhkan strategi khusus dengan memperhitungkan berbagai hal, yakni jarak tempuh,kemacetan lalu lintas, bus kota dan mikrolet yang ngetem,atau jadwal perjalanan kereta api yang tak menentu. Sementara, eberadaan bus Transjakarta yang dijadikan salah satu ikon transportasi massal, masih perlu penyempurnaan.
Belum tuntas masalah busway, kini Pemprov DKI Jakarta menggagas mass rapid transit(MRT) yang ditargetkan beroperasi pada 2016 (Lebak Bulus-Dukuh Atas sepanjang 14,3 kilometer).Harapan terhadap moda transportasi massal kian suram ketika melihat proyek monorel yang mangkrak tanpa kejelasan. Kini, satu-satunya transportasi berbasis rel yang masih bisa diharapkan adalah KRL Jabodetabek. Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi (Instran) Darmaningtiyas menyatakan, salah satu kelemahan dalam rencana pengelolaan transportasi massal adalah sikap Pemprov DKI yang tidak konsisten.Padahal, kata dia, kalau dilakukan secara konsisten maka moda transportasi massal bisa diselesaikan satu per satu. “DKI itu punya banyak dana. Selain dari APBD juga ditopang APBN, karena DKI juga menjadi pusat pemerintahan nasional,” tandas Darmaningtiyas kepada Seputar Indonesiakemarin. Ketidakkonsistenan pemprov terlihat dari lompatan-lompatan program yang akan dijalankan. “Kalau mau sukses yakonsisten dengan rencana semula.Jangan setiap ganti gubernur ganti pula kebijakan transportasinya,”kritiknya. Pengamat Transportasi dari Universitas Trisakti Fransiskus Trisbiantara berpendapat, setidaknya ada empat alternatif pilihan dalam pemecahan masalahan transportasi. Yakni, penyediaan angkutan umum yang murah dan nyaman, desentralisasi strategi, peralihan dari angkutan pribadi menuju angkutan massal,dan pembatasan lalu lintas. Khusus untuk desentralisasi strategi, pemecahan konsentrasi kegiatan dari pusat kota ke wilayah pinggiran merupakan upaya pemerataan. ”Dengan demikian, kemacetan yang sering terjadi di pusat kota akibat penggunaan waktu, jalur, dan banyaknya pemakaian kendaraan pribadi dalam waktu yang sama dapat di minimalisasi,” paparnya. Terkait transportasi massal, pihaknya berpendapat,penyelenggaraan MRT merupakan sesuatu yang harus dilakukan di kota besar seperti Jakarta.Menurut dia,MRT harus sudah terealisasi pada tahun 2016.Kendala yang umumnya dihadapi dalam penyelenggaraan MRT adalah tidak adanya budaya planning serta pembiayaan yang mahal. “Karena itu perlu konsistensi antar pemangku kepentingan terkait,”tandasnya. Deputi Gubernur DKI Bidang Industri,Perdagangan, dan Transportasi Soetanto Soehodo menjelaskan, masalah transportasi di ibu kota sudah sangat kompleks. Namun demikian, pihaknya tidak hanya lepas tangan.Pemprov DKI sudah menyiapkan pola transportasi makro, baik yang sudah berjalan seperti buswaymaupun yang masih dalam proses seperti MRT. Selain itu,pihaknya akan mengoptimalkan KRL Loop line yang sudah beroperasi beberapa tahun lalu dan melakukan kajian mengenaipenataanseluruhtrayekangkutan umum sebagai bagian dari penyempurnaan sistem transportasi bus. “Untuk saat ini yang kami lakukan adalah mempersiapkan beberapa penunjang seperti KRL Loop line,”tandasnya. Di bagian lain, Pemkot Tangerang menggagas peluncuran kereta api (KA) dalam kota mulai dari Pasar Anyar,Kecamatan Tangerang sampai Perumnas,Kecamatan Karawaci. Kepala Dinas Perhubungan Kota Tangerang Erlan Rusnarlan mengatakan, pembangunan akses baru ke Perumnas itu karena dari hasil penelitian,penumpang di Stasiun Tanah Tinggi, Poris Plawad, Kota Tangerang mayoritas adalah warga di daerah Karawaci.”PT KA akan membangun double track. Ini adalah lanjutan dari rute Stasiun PasarAnyar-Beos Jakarta,”ujarnya. (ahmad baidowi/denny irawan) |