|
||||||||||||||||||
| Karnaval Akhiri Helarfest 2009 |
|
|
| Sunday, 13 December 2009 | |
|
BANDUNG (SI) – Sekitar 200 orang dari berbagai komunitas di Kota
Bandung meramaikan ajang Carnival Closing Helarfest 2009, kemarin.
Sekitar 30 komunitas yang ikut pada ajang Helarfest 2009 tersebut menjadi peserta karnaval, arakarakan menuju tempat digelarnya Cikapundung Festival. Arakan-arakan yang dimulai sejak pukul 15.00 WIB tersebut mengambil start dari Jalan Tirtayasa menuju Jalan Merdeka, lalu Jalan Tamblong. Dari Jalan Tamblong menuju Braga dan berakhir di Jalan Cikapundung Timur. Karnaval berlangsung meriah dengan hadirnya empat kelompok parade.Kelompok pertama dari kalangan Garing Mania Sampai Mati (Ganiati), Tataloe Percussion, Bike to Work,dan terakhir dari kalangan komunitas. Yang menarik dari karnaval itu yakni hadirnya Ganiati. Mereka mengenakakan pakaian-pakaian unik dan menarik. Sembari berjalan, kelompok Ganiati melakukan aksi teatrikal yang membuat gelak tawa pengguna jalan. Tak kalah dengan Ganiati, kelompok perkusi pun menunjukkan kebolehannya dalam menabuh perkusi, sembari berjalan. Sedangkan perwakilan komunitas melakukan jalan santai diikuti anggota Bike To Work dengan kecepatan sedang.Kendati melintas pada sejumlah ruas jalan utama, namun tidak membuat kemacetan berarti karena pawai diiringi puluhan petugas kepolisian yang juga terjun mengatur lalu lintas di sepanjang jalan. ”Karnaval ini merupakan sebuah ritual penutup diikuti semua komunitas yang terlibat pada Helarfest 2009 sebelum ahirnya ajang tahunan milik Kota Bandung ini ditutup,” kata Koordinator Carnival Closing Helarfest 2009 Pramudya Tirta Pratama kepada Seputar Indonesia di sela-sela persiapan karnaval kemarin. Menurut dia, karnaval kali ini lebih ramai karena dilakukan dengan berjalan kaki.Hal itu berbeda dari perayaan karnaval tahun sebelumnya, yang mana karnaval menggunakan delman. Selain karnaval, pihaknya pun membagikan stiker dan brosur dari kepada masyarakat sekitar. ”Harapannya masyarakat semakin tahu keberadaan Helarfest tahun mendatang,”tegas Reza. Sementara itu, pawai sepeda motor para peserta Braga Bike Fest 2009 yang rencananya dilaksanakan kemarin gagal digelar. Gagalnya pawai sepeda motor besar dan motor tua untuk menghindari kemacetan di Kota Bandung. Karena bisanya pada hari Minggu, banyak turis domestik yang berdatangan untuk berlibur atau belanja ke Kota Bandung. ”Kami sadar jika ribuan motor peserta Braga Bike Fest ini turun ke jalan, maka akan terjadi kemacetan. Oleh karenanya, kami memilih membatalkannya. Bagi kami ini tak masalah,yang penting inti digelarnya Braga Bike Fest 2009 yaitu menjadikan kawasan Braga kembali ke tempo dulu telah tercapai,” kata Wakil Ketua I Braga Bike Fest 2009 Oetomo Hermawan. Dia mengakui, ajang ini setidaknya mampu menjadi jembatan terlaksananya Braga sebagai kawasan pedestrian atau pejalan kaki. Selama dua hari,kawasan ini tertutup bagi mobil dan motor. Pada saat itu juga digelar berbagai kesenian daerah dan menampilkan kembali para pedagang di kawasan Braga tempo dulu. ”Kami bersyukur event ini tak hanya diramaikan oleh anggota Brotherhood, tapi juga banyak dikunjungi masyarakat dan turis asing.Ke depannya,kami berharap event ini bisa melibatkan banyak kalangan,”tegas Oetomo. Selama beberapa hari ini,Braga Bike Fest 2009 diramaikan sekitar 800 anggota klub motor Brotherhood dari berbagi daerah di Indonesia dan luar negeri,di antaranya dari Kalimantan,Sumatera,Bali,juga Malaysia,Singapura,Australia,dan lainnya. (arif budianto) |