|
||||||||||||||||||
| Debat Tiga Calon Rektor ITB Panas |
|
|
| Sunday, 22 November 2009 | |
|
BANDUNG (SI) – Acara debat terbuka calon rektor Institut Teknologi
Bandung (ITB) untuk kali pertama dilakukan, kemarin. Debat terbuka
tersebut tiga calon rektor ITB periode 2010-2014 yang hadir memaparkan
komitmen serta visi misi berlangsung panas.
Ketiga calon rektor ITB tersebut yakni Wakil Rektor ITB Bidang Akademik Adang Surahman, dosen Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB Indra Djati Sidi, dan Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) ITB Akhmaloka. Adang Surahman mengatakan, dia siap menjalankan komitmen yang sudah diaspirasikan oleh mahasiswa. Namun, ujarnya, semua akan terwujud jika seluruh elemen di ITB bisa bersama-sama berhasil membenahi negara. ”Makanya ITB harus menjadi tempat mencari solusi dari berbagai permasalahan bangsa. Dengan demikian ranking sebagai world class university akan naik dengan sendirinya,”ujarnya. Dirinya lebih memilih melakukan recovery berbagai permasalahan bangsa dengan tidak terlalu terburu- buru. Dia menjelaskan, paling cepat recoverybisa berjalan dalam jangka waktu 10 tahun itu sudah bagus. Dia optimistis, teknologi tepat guna bagi masyarakat akan segera terwujud dalam 10 tahun mendatang. Sementara itu, Indra Djati Sidi mengatakan, ITB saat ini sudah menjadi bagian dari world class university. Untuk meningkatkan ranking itu bisa ditempuh dengan berbagai cara, salah satunya terus mengawal dan menyelesaikan semua permasalahan bangsa. ”Memang probability untuk meraih Nobel agak susah dari engineering. Namun, bisa kita wujudkan dengan mendukung infrastruktur, energi, dan sebagainya. Namun menurut saya, recovery akan benarbenarterwujuddalamjangkawaktu lebih dari 10 tahun. Pasalnya, yang harus difokuskan saat ini adalah immediate needs,”katanya. Sedangkan Akhmaloka mengatakan, jika ITB dituntut bekerja sama dengan pemerintah, berarti ITB harus menjadi bagian dari masalah pemerintah. Sebenarnya, sambung dia, sederhana saja, kuncinya bagaimana ITB tahu permasalahan nya apa. Akhmaloka mengatakan, komunikasi ITB dengan pemerintah harus baik. Dia yakin bahwa ITB punya kekuatan untuk itu.Melalui berbagai penelitian, dia bersama ITB siap memberikan yang terbaik bagi bangsa. ”Saya punya track record beberapa penelitian ITB.Namun penelitian itu hendaknya harus memiliki ciri khas Indonesia,” tandasnya. Apalagi, sambung dia, saat ini dengan anggaran pendidikan 20% dari pemerintah, geliat penelitian harus lebih ditingkatkan lagi. Saat ini, pertumbuhan penelitian sudah mulai naik.Namun memang sesuai dengan aspirasi mahasiswa, kuantitas dan kualitas dosen harus ditingkatkan juga. Akhmaloka mengatakan, saat ini ada 110 brandpenelitian di ITB.Namun dosen yang melakukan penelitian baru 150 dosen. Jumlah tersebut kurang ideal untuk sebuah penelitian. ”Mulai tahun 1990 penelitan memang sudah mulai menggeliat. Namun idealnya dalam satu brand penelitian dilakukan oleh dua dosen. Saya pribadi berkomitmen untuk menjadikan kegiatan penelitian tersebut menjadi ideal,” pungkas dia. Hasil debat ini akan dijadikan referensi mahasiswa dalam musyawarah mahasiswa yang akan berlangsung sebelum pemilihan rektor. ”Dengan debat ini bisa terlihat siapa calon yang layak menjadi rektor sehingga dalam musyawarah mahasiswa nanti diharapkan kami sudah punya satu pilihan,”kata Ketua Keluarga Mahasiswa ITB Ridwansyah. (radi saputro) |