|
||||||||||||||||||
| Karakter ”Buaya” |
|
|
| Thursday, 05 November 2009 | |
|
KERUAN saja tiba-tiba negeri ini heboh dengan hadirnya ”buaya”di tengah-tengah kita. Ada yang bilang itu bukan buaya sungguhan.
Bisa jadi ia cuma binatang jadijadian alias siluman.Namun yang namanya buaya tetap saja mengerikan, karena ia pemangsa manusia. Bau anyir ”buaya” dan suaranya kita cium dan dengar saat rekaman suara mereka diputar di Mahkamah Konstitusi,Selasa (3/11). Dalam literatur kepemimpinan, karakter buaya bukanlah sekadar jadi-jadian. Ia eksis dan karakternya ada di tengah-tengah kita. Ia pun tidak jelek-jelek amat, bahkan ”dipelihara”oleh banyak pemimpin besar karena ia disiplin dan fokus.Namun buaya yang mengamuk bisa menjadi sangat bodoh dan menganibal tuannya sendiri. Sama seperti mamalia yang terlalu guyub, reptil yang terlalu ambisius, tak ubahnya manusia bodoh yang membahayakan habitat demokrasi. Bengis dan Fokus Adalah Joseph White, mantan rektor University of Illinois, yang pertama-tama memperkenalkan karakter ”buaya”dalam kepemimpinan. Seperti binatang berkulit keras, melata,merayap yang berdarah dingin,maka manusia ”buaya”juga menyandang perilaku reptil. Ia ”bengis”. Kalau mencari makan bisa memisahkan diri dari teman-temannya.Sungguh berbeda dengankaraktersebagianbesarkita yang mewarisi DNA mamalia yang senang pergi beramai-ramai (guyub), bergerombol,dan menyerang bersama-sama. Mamalia adalah makhlukberdarahhangatdanmembesarkan anak-anaknya (nurture). Dalam ilmu manajemen,pemimpin yang demikian adalah pemimpin yang menciptakan kehangatan,kerekatan, mengembangkan manusia, dan menjadikan mereka pemimpin. Darah hangat itu mengalirkan rasa percaya,kebersamaan,dan kepengasuhan. Hanya saja, mamalia yang terlalu guyub bisa memajalkan kekuatan organisasi. Mereka cenderung menjadi saling melindungi, jumlah gerombolannya sangat banyak, berbagi di antara mereka, dan ”malas” (menyerang). Lamalama mereka bisa menghabiskan uang investasi (menjadi konsumsi), korupsi beramai-ramai dengan prinsip ”Tidak apa-apa mencuri asal hasilnya dibagi beramairamai,” dan tidak produktif. Kalau saja di antara mamalia ada yang menghendaki perubahan, maka ia akan diserang beramairamai. Change maker di antara ”mamalia malas” itu akan dianggap sebagai pengkhianat dan ditekan agar ”bermain”di luar area mereka. Karakter buaya yang berdarah dingin, diamati oleh White, sebagai karakter ideal untuk menyerang. Selain ”sulit mati”,karena kulitnya yang keras, ia bisa hidup di mana saja. Ia tidak perlu pergi berburu beramai-ramai.Pergi sendirian pun dilakoninya dengan penuh keberanian. Ia memisahkan diri dari kerumunannya begitu ia melihat sasaran.Matanya tajam mengintai, tenang, namun begitu lawannya lengah,ia tak memberi kesempatan mangsanya untuk berkutik. Selain itu, eksekutif berkarakter buaya juga memiliki sifat-sifat positif lain. Ia memiliki jiwa disiplin, tidak suka menunda-nunda, selalu mem-follow-up, dan kuat dalam hitung-hitungan ekonomi. Itu sebabnya, saya sebenarnya senang memiliki staf atau atasan yang berkarakter ”buaya”. Namun seperti mamalia yang terlalu guyub, reptil yang terlalu ”buaya”juga bisa menjadi counterproductive dan bodoh. Buaya seperti ini sangat arogan dan sangat percaya pada kekuasaan dan kekuatan yang dimilikinya untuk mengoyak-ngoyak pertahanan sasarannya. Ia hanya fokus pada sasarannya tanpa menghiraukan kerusakan habitat akibat ulahnya. Karakter buaya dan mamalia yang demikian diamati selama bertahun-tahun oleh Joseph White yang akhirnya berhasil merumuskan dikotomi leadership keduanya. Anda mungkin berpikir, ”Ah, itu kan binatang.... Kita ini manusia, jadi cara berpikirnya berbeda.” Terhadap hal ini,White menyatakan, ”Kendati sel-sel kita terdiri atas rangkaian DNA manusia, tak terbantahkan ada evolusi yang berlangsung jutaan tahun, yang menyisakan jejak sejarah di bagian atas kepala kita, yaitu selsel reptil.”Maka daripada mencaricari jawaban, lebih baik kita waspada saja.Tak ada salahnya melakukan introspeksi di ujung tahun. Menurut pengamatan saya,saat ini masih ada ratusan ”buaya” bodoh yang jahat yang bersembunyi di antara ”lumba-lumba” (mamalia) pengayom negara,penegak hukum, dan jajaran birokrasi.Adalah tanggung jawab kepala negara dan para menteri untuk membebaskan aparaturnya dari ”buaya-buaya” bodoh sebelum mereka memangsa tuannya sendiri. Buaya Pintar Karakter buaya, sekali lagi, bukanlah melulu karakter yang jelek. Sebaliknya, karakter mamalia, juga bukanlah karakter yang ideal. Mamalia adalah karakter yang terlalu biasa, terlalu banyak ditemui sehari-hari.Dalam proses pembangunan, dan penegakan hukum, negeri ini jelas butuh academician, birokrat, dan eksekutif-eksekutif ”buaya”. Namun ”buaya” seperti apa yang dibutuhkan, inilah masalahnya. Dalam berbagai kesempatan saya sering memberikan kuesioner singkat untuk mengukur karakter para eksekutif. Surprisingly, saya selalu menemukan orang-orang hebat, pekerja keras, para calon pemimpin yang bersinar, jenderaljenderal polisi, petinggi dalam bidang hukum,pengacara,bahkan CEO-CEO terkenal, justru memiliki karakter buaya. Mereka sangat logic, tegas, agresif, fokus, memiliki sense of economics, dan manajemen keuangan. Di lain pihak, sejalan dengan umur, sebagian dari mereka juga mulai menumbuhkan karakterkarakter mamalia. Karakterkarakter baik mamalia seperti nurture (mengasuh), trust (mempercayai) sehingga memperhatikan pendelegasian dan penguatan tim (empowerment), serta communication ability (sebagai tambahan kompetensinya yang kuat dalam economics and finance). Lebih menarik lagi, mereka juga mulai sensitif terhadap orang lain dan hubungan kemanusiaan. Mereka mulai menjembatani kekuatan logicdengan intuisi. Dua tahun lalu saya menulis di salah satu situs berita, bahwa gabungan kedua karakter itu sebagai ”Mama Reptil”. Itulah gambaran karakter dari ”buaya” yang ideal. Buaya yang berani, cerdik, fokus, pejuang, namun tetap berhati mulia, rendah hati, dan tetap lembut. Kalau buayanya seperti itu, janganlah Anda musuhi. Mereka itu sangat kita butuhkan untuk menjaga keselamatan dan kesejahteraan kita. Sebagai anggota pansel (panitia seleksi) anggota KPK 2007– 2011 yang lalu, saya pun menyajikan dikotomi itu. Kami memilih orang-orang terbaik. Dan bagi saya, Pak Bibit dan Pak Chandra adalah Mama Reptil yang pasti mampu menaklukkan ”buaya-buaya” bodoh yang rakus, busuk, dan bodoh. Mereka hanya akan mati bila Anda yang membunuhnya,bukan mati di tangan para koruptor.Perhatikanlah, mereka bekerja sangat serius, teguh, namun sangat patuh pada hukum dan bukan pemarah.Mungkin Anda sempat gemas melihat ketenangan mereka saat ditangkap polisi. Tapi di balik itu ada keberanian yang besar, ketulusan, dan ketangguhan. Mari kita dukung terus KPK, dukung Indonesia yang lebih bermartabat dan bersih. Mari kita bebaskan negeri yang tengah disandera ”buaya-buaya” jahat. Selamat berjuang kawan.(*) RHENALD KASALI Ketua Program MM UI |