|
||||||||||||||||||
| Anak-Anak Lebih Suka Mencari Uang daripada Sekolah |
|
|
| Wednesday, 28 October 2009 | |
|
SEKOLAH menjadi suatu yang tidak begitu menarik bagi anakanak di Pulau
Belitung.Mereka lebih tertarik menambang timah.Karena dalam seminggu,
uang yang bisa dikumpulkan mencapai ratusan ribu rupiah.
Seperti yang dilakoni Rizki,13, Riki,13,dan Samin 14,ketiga siswa SMP terbuka yang belajar di SDN 11 Badau, Kabupaten Belitung. Hampir setiap hari mereka ikut orangtuanya ngelimbang (menambang timah) mulai pukul 08.00- 18.00 WIB. Menurut Rizki,dalam satu hari bisa mendapatkan 3 ons timah.Karena itu, dalam seminggu timah yang dikumpulkan bisa lebih satu kilogram. Bila satu 1 ons timah dihargai Rp70.000,bisa dibayangkan berapa hasil yang bisa mereka peroleh setiap minggu. Namun, tak setiap hari Rizki berhasil mendulang timah. Bahkan, pernah dalam satu hari dia tidak mendapatkan satu butir timah pun. Uang hasil ngelimbang ini dipergunakannya untuk membeli kebutuhan sehari-hari dan menambah biaya kebutuhan hidup keluarga. Meski setiap hari harus bermandi peluh untuk mendulang timah, semangat Rizki, Riki, dan Samin untuk tetap belajar ternyata masih ada. Makanya, mereka terdaftar sebagai siswa SMP terbuka. Mereka menyadari pendidikan cukup penting, selain mampu mencari uang sendiri. Koordinator SMP terbuka yang menginduk pada SMP 1 Badau, Iskandar mengungkapkan,SMP terbuka sudah ada sejak 1996.Para siswa SMP terbuka tetap mengikuti ujian nasional,dan ijazah yang mereka dapatkan sama dengan sekolah induk. Akan tetapi, banyak kendala yang mengiringi pelaksanaan SMP terbuka ini.Antara lain minimnya modul, jarak mengajar guru menuju tempat kegiatan belajar (TKB) cukup jauh dan banyak siswanya yang bolos.“Kalau sudah bolos, biasanya siswa dijemput ke tempat mereka biasa ngelimbang,” ujar Iskandar. Kepala SMP 1 Badau, Elwana menyebutkan,tempat kegiatan belajar SMP terbuka yang menginduk pada SMP 1 Badau berada di tiga lokasi, yakni Sungai Samak, Badau, dan Pelepak Putih. Bagi guru yang juga mengajar di tempat kegiatan belajar, diberi tunjangan Rp110.000. Namun, kalau jumlah siswanya sedikit, otomatis honor guru yang diambil dari bantuan operasional sekolah (BOS) ini juga ikut sedikit. Sementara itu,dari 37 peserta SMP terbuka yang mengikuti UN tahun 2009, yang lulus hanya dua orang. Sisanya,lulus melalui ujian paket B. Tingkat kelulusan ujian nasional di Pulau Belitung ini harus mendapatkan perhatian khusus. Sebab, rata-rata tingkat kelulusannya baru mencapai 60%-70%.Bahkan, pernah ada SMP yang tingkat kelulusannya 0%. Menurut Kepala SMPN 5 Tanjung Pandan, Belitung,Victor VD Bos, ada beberapa penyebab rendahnya tingkat kelulusan ujian nasional. Pertama, fasilitas pendidikan anak di rumah sangat minim, ditambah minat anak untuk belajar juga menurun. Selain itu, faktor kualitas guru dalam kegiatan belajar-mengajar juga masih harus diasah. Satu lagi yang memengaruhi rendahnya tingkat kelulusan, yakni faktor lingkungan. Banyak orangtua siswa berduit karena berbisnis timah sehingga memberikan sepeda motor kepada anak-anaknya. Karena itu, tak jarang banyak anak-anak yang terlibat kebutkebutan di jalanan. Untuk itu, pihak SMPN 5 Tanjung Pandan mengambil kebijakan dengan mengasuransikan anak-anak yang membawa sepeda motor ke sekolah. (fakhrur haqiqi) |