VALAS

Kurs

Jual

Beli

USD

9425.00

9125.00

SGD

7532.20

7263.20

AUD

9446.65

9109.65

JPY

118.37

113.45

14 Mei 2012 / 11:23 WIB
 
SUARA MAHASISWA, Tidak Sekadar Berteriak PDF Print
Saturday, 12 September 2009
DEMO,mungkin itulah kata-kata yang sering terlintas di kepala tiap orang bila mendengar nama mahasiswa. Membuat kemacetan, memberikan gangguan secara tidak langsung terhadap orang-orang di sekitar, serta membuat suasana menjadi tidak kondusif.


Stigma seperti ini selalu ditujukan kepada mahasiswa yang dikenal sebagai komponen masyarakat yang sangat sulit untuk diatur.Sejarah mencatat bahwa mahasiswa pada tiap periode dan zaman memiliki posisi yang sangat penting dalam berjalannya sebuah sistem tata negara. Dalam ilmu ekonomi ada sebutan makhluk ekonomi, makhluk yang bertindak untuk memenuhi kebutuhan pribadi mereka.Mahasiswa mendapatkan sebuah sebutan yang sangat agung dalam tatanan kenegaraan.Mahasiswa disebut sebagai agent of change,sosok yang bisa memberikan suatu hal yang baru pada stabilisasi pemerintahan dalam suatu negara.

Mahasiswa era milenium ini seharusnya menjadi pionir dan contoh bagi setiap elemen masyarakat.Mereka harus selalu bisa memberikan suatu hal yang baru dan segar.Sesuai dengan nama yang diberikan oleh masyarakat sebagai agent of change, mahasiswa harus memberikan sebuah pemikiran yang kreatif dan cerdas.Menawarkan sebuah konsep yang tidak mengawang dan mengambang,tetapi memberikan sebuah penyelesaian yang konkret. Itulah esensi mahasiswa era milenium ini.

Kegiatan demo dan berteriak- teriak yang tidak jelas ujung pangkalnya seharusnya mulai dikurangi. Buat apa berteriak di bawah terik matahari jika pada akhirnya tidak ada orang yang respek terhadap apa yang kita perjuangkan? Masyarakat lebih memandang para mahasiswa sebagai pembuat keonaran.Bukan sebagai pemberi rasa aman dan kepastian bagi masyarakat sekitar. Era demonstrasi yang anarkis sebaiknya dikurangi secara perlahan. Mungkin tidak dihilangkan secara drastis, tetapi setidaknya ada cara penyampaian dan pengawasan yang lebih elegan lagi.

Kita menjadi benteng terakhir dan tempat berharapnya rakyat agar pemerintahan bisa terus dijaga. Setiap tindak tanduk yang akan dilaksanakan oleh pemerintah pada akhirnya akan dinilai oleh para mahasiswa. Mereka akan mengatakan salah ketika merasa ada suatu kejanggalan dalam sebuah kebijakan dan tentunya akan memberikan apresiasi bagi pemerintah jika melakukan sebuah hal yang brilian.

Karena itulah, era gerakan mahasiswa yang cuma mengandalkan fisik sebaiknya tidak terlalu diagung-agungkan lagi. Buat apa menuntut pemerintah kalau isi kepala ini kosong melompong?

Mahasiswa hendaknya menjadi orang yang banyak berpikir dan memberikan sebuah kontribusi yang nyata terhadap pengawasan pemerintah serta menawarkan suatu ide yang brilian hingga pada akhirnya orang-orang akan semakin sadar dan mengetahui bahwa sebenarnya mahasiswa bukan lagi menjadi orang yang suka berdemo,mengganggu kenyamanan lalu lintas,dan memberikan rasa takut kepada orang sekitar.Rakyat menjadi tahu bahwa mahasiswa telah menjadi orang yang tidak hanya berteriak di tepi jalan.(*)

Jahen Fachrul Rezki
Mahasiswa Ilmu Ekonomi Universitas Indonesia dan Peneliti di BO Economica