VALAS

KURS

JUAL

BELI

USD9100.008850.00
SGD7229.807214.80
AUD9828.759523.75
JPY118.58114.12
9-Feb-2012 / 10:42 WIB

 
Nasib Afghanistan Kian Kelam PDF Print
Saturday, 05 September 2009
Fakta bahwa kandidat presiden Afghanistan Abdullah Abdullah mendapatkan dukungan dari suku tersohor di distrik Kandahar merupakan penegasan khusus bahwa pemilihan umum (pemilu) di Afghanistan memiliki akar etnik dan kesukuan.


Karena itu pula,muncul kekhawatiran bahwa dugaan kecurangan pemilu akan semakin memecah belah rakyat Afghanistan dan tidak menambah legitimasi terpilihnya kembali Presiden Hamid Karzai. Perkembangan sepekan terakhir di negeri itu semakin menguatkan kecemasan ini. Abdullah Abdullah yang mendapatkan dukungan kuat dari suku Bariz dari Distrik Shorabak menyatakan bahwa tidak satu pun tempat pemungutan suara dibuka di distrik itu serta tidak satu suara pun dihitung.

Menurut Abdullah, kotak-kotak suara dari lokasi itu diisi oleh pejabat yang bekerja di bawah arahan saudara kandung Presiden Karzai, Ahmad Wali Karzai. Padahal, hasil pemungutan suara yang diumumkan Komisi Pemilu Afghanistan menunjukkan bahwa dari 23.900 suara yang dihitung di distrik pendukung Karzai, tidak satu pun suara diberikan untuk Abdullah.

Meski, 10 hari sebelumnya Karzai mendapatkan dukungan dari suku Bariz, suku dominan di Distrik Shorabak. Berbagai klaim bahwa pemilu penuh kecurangan mungkin berlebih- lebihan. Namun, jumlah komplain yang diajukan terus meningkat drastis. Dari 650 komplain pekan lalu,saat ini lebih dari 2.650 kasus yang masuk, termasuk 50 komplain yang dianggap cukup serius hingga dapat mempengaruhi hasil pemilu, sedangkan 650 komplain dianggap penting. Komisi pemilu pun berharap komplain tidak bertambah lagi.

Dengan adanya potensi konflik yang lebih besar, pengumuman hasil penghitungan suara sementara pun ditunda. Hasil terbaru, dari 60% suara yang dihitung pada Selasa (1/9) malam menempatkan Karzai memimpin dengan 47,3% suara dan Abdullah hanya 32,6% suara. Tampaknya,Komisi Pemilu tidak dapat menjanjikan mengumumkan hasil akhir penghitungan pada 17 September karena harus melakukan investigasi terhadap, sedikitnya, 650 keluhan serius.

Lebih krusial lagi, Abdullah Abdullah dan kandidat presiden lainnya menolak saran untuk bergabung dalam pemerintahan baru yang dipimpin Karzai.Sebaliknya, Abdullah Abdullah justru mengancam akan melakukan segala bentuk gugatan hukum agar segala kecurangan pemilu diselidiki pengadilan. Sedangkan pendukung utama Abdullah di Mazar-e-Sharif mengancam akan menggelar unjuk rasa besar-besaran. Ancaman itu jelas akan membuat Afghanistan semakin tenggelam dalam krisis politik berkepanjangan.

Perang Obama

Kekisruhan hasil pemilu Afghanistan hanya sebagian kecil dari
masalah di negeri itu.Pada sisi yang lebih genting, Afghanistan terus menjadi pusat perhatian dunia internasional,terutama bagi Amerika Serikat (AS) yang memimpin perang melawan Taliban dan jaringan Al Qaeda.

Ada idiom yang berbunyi,”Saat tiba giliran ke Afghanistan, tidak ada kekuatan besar yang pernah sukses mengontrol negara itu,” membuat negara asing yang turut campur di negara itu harus berpikir ulang. Idiom itu tampaknya sesuai dengan hari-hari berat Presiden AS Barack Obama yang sedang mempertimbangkan pilihan sulit terkait kemungkinan penambahan jumlah pasukan AS di negeri yang dikenal sebagai ”kuburan bagi banyak kekuatan”.

Obama tentu sangat sadar dengan sejarah Afghanistan dan berbagai pilihan yang memiliki dampak jangka panjang. Setelah komandan AS di Afghanistan, Stanley McChrystal, menyerahkan laporan kelam 8 tahun perang di negeri itu, kini giliran Obama untuk membuat keputusan. Namun, keputusan itu tetap sulit dibuat. Penambahan pasukan dan sumber daya lain ke Afghanistan mungkin membantu pelaksanaan strategi baru Obama di negara itu,tapi Presiden AS juga harus menghadapi tingginya sentimen publik yang menentang perang.

Tidak peduli seberapa cepat Obama akan mengumumkan keputusan penambahan pasukan dan perubahan taktik di Afghanistan, konflik di sana telah menjadi ”Perang Obama” yang tampaknya tidak menunjukkan titik akhir dan justru tidak memperjelas. Memang, McChrystal tidak membuat permintaan resmi untuk merekomendasikan penambahan pasukan dalam laporannya.Tapi, Gedung Putih dengan jelas menunjukkan kemungkinan untuk itu.

Bahkan, juru bicara Gedung Putih Robert Gibbs awal pekan lalu menjelaskan jika permintaan resmi untuk penambahan pasukan atau sumber daya perang lainnya akan muncul dalam beberapa pekan ke depan. Gibbs menggunakan kalimat ”kekurangan sumber daya” berulang kali untuk menggambarkan berbagai kebijakan AS di Afghanistan. ”Selama bertahuntahun, upaya kami di Afghanistan kekurangan sumber daya politik, militer,dan ekonomi,”papar Gibbs.

The New York Times dan surat kabar AS lainnya mengartikannya sebagai pernyataan pelembut untuk mengatakan, ”Kita perlu menambah lebih banyak pasukan dan sumber daya lain di sana.” Dalam laporannya,McChrystal menjelaskan,”Situasi di Afghanistan serius tapi kesuksesan dapat dicapai.” Dia juga menyerukan revisi strategi, ”keputusan” besar, dan ”penyatuan langkah” untuk memenangkan perang.

Laporan itu juga merekomendasikan perubahan strategi militer untuk melindungi populasi lokal dengan perang melawan pejuang Taliban, meningkatkan pelatihan terhadap militer Afghanistan dan menambah jumlah tentara Afghanistan. Meskipun tidak secara eksplisit meminta penambahan pasukan, untuk melindungi populasi sipil dan memberi pelatihan pada lebih banyak tentara Afghanistan, jelas membutuhkan lebih banyak tentara AS dan pelatih militer.

Dan saat Obama mengumumkan strategi barunya di Afghanistan pada Maret silam, dia mengatakan bahwa tujuan dari strategi itu adalah ”mengacaukan, membongkar, serta mengalahkan Al Qaeda dan Taliban yang dianggap memberi perlindungan bagi teroris. Obama telah merencanakan penambahan pasukan di Afghanistan hingga 68.000 tentara tahun ini. Namun, pengamat militer Frederick Kagan menganggap jumlah tersebut tidak cukup untuk menyukseskan tujuan AS.

Berdasarkan doktrin Tentara AS,agar dapat melindungi populasi lokal secara efektif, diperlukan satu tentara untuk 50 warga sipil.Itu artinya,di Afghanistan diperlukan 320.000 tentara. Dengan penambahan 68.000 tentara AS,tentara NATO,dan tentara Afghanistan, jumlah keseluruhan tentara di sana hanya 270.000 orang. Sedangkan Anthony Cordsman, penasihat McChrystal, saat menulis laporannya menjelaskan bahwa banyak pakar yakin, mereka membutuhkan sedikitnya 3 brigade tambahan atau sekitar 10.000 tentara tambahan.

Harga Terlalu Tinggi

Jajak pendapat menunjukkan, Obama menghadapi risiko politik lebih besar jika mengirim lebih banyak pasukan dan sumber daya lain ke Afghanistan. Dalam jajak pendapat CNN yang dirilis pekan ini, mayoritas atau 57% warga Amerika kini menentang perang.

Jumlah tersebut telah meningkat drastis dalam beberapa bulan terakhir. Faktanya, mayoritas pendukung antiperang berasal dari kubu Obama sendiri yaitu Partai Demokrat dan independen.

”Publik tidak melihat Afghanistan dapat mengakibatkan kekalahan.Tapi, banyak warga Amerika yang mempertanyakan apakah kemenangan di Afghanistan harus dibayar semahal itu,” papar direktur jajak pendapat CNN Keating Holland. Lebih dari itu, jika dibandingkan biaya mahal yang dibayar AS untuk perang di Afghanistan, hasilnya tampaknya kurang memuaskan. Bahkan, jika pemerintahan Obama memformulasikan strategi baru, mengirim lebih banyak tentara, dan mengganti militer AS dan pemimpin sipil di Afghanistan, situasi di sana akan tetap memburuk.

Bahkan, insiden serangan terhadap tentara AS pada Agustus lalu merupakan yang paling mematikan sejak kehadiran pasukan AS di Afghanistan pada 2001. Para pembayar pajak Amerika kini lebih khawatir dengan bertambahnya pengeluaran AS untuk perang.

AS sejauh ini telah mengeluarkan USD223 miliar untuk tujuan militer di Afghanistan, sedangkan bantuan nonmiliter tahunan ke sana naik dari kurang dari USD1 miliar pada 2003 menjadi USD9,3 miliar tahun lalu. Sebagian besar pengamat pun sepakat, strategi baru Obama di Afghanistan berarti penambahan biaya perang. (syarifudin)