|
||||||||||||||||||
| Impor Jangan Ganggu Pasar Lokal |
|
|
| Tuesday, 01 September 2009 | |
|
RENCANA Pemprov Jateng melakukan impor gula sebanyak 60.000 ton diminta
tidak mengganggu pasar gula lokal.Wakil Ketua Komisi B DPRD Jateng
Muhammad Haris mengatakan, rencana impor gula tersebut harus disertai
pengamatan dari hulu hingga hilir.
Dengan begitu,tidak ada pihak-pihak lokal yang dirugikan dalam impor tersebut. ”Jadi sebelum melakukan impor, harus ada jaminan tidak mengganggu pasar,”katanya kemarin. Sejauh ini impor gula yang dilakukan berupa rafinasi. Menurut Haris,gula jenis itu diperuntukkan kepada industri makanan.Atas dasar itu, distribusi dari gula impor tersebut harus sesuai sasaran. ”Jangan sampai, distribusinya keluar dari peruntukannya. Ini juga yang harus bisa dijamin pemprov,” tandasnya. Haris menambahkan, jika distribusi gula impor tersebut keluar dari peruntukannya, maka bisa dipastikan akan mengganggu pasar lokal.Sebab,hal itu akan menurunkan harga gula di pasaran. ”Atas dasar itu, jaminan berupa pengawasan agar distribusi gula impor itu tepat sasaran harus dilakukan. Ini wajib dipenuhi,”ujarnya lagi. Sebelumnya, Pemprov Jateng berencana melakukan impor gula sebanyak 60.000 ton. Langkah itu dilakukan untuk mencukupi kebutuhan masyarakat, sampai Desember 2009. Gubernur Jateng Bibit Waluyo mengatakan, impor itu akan dilakukan melalui Pabrik Gula Cepiring Kendal. Hanya gubernur tak menyebutkan asal gula impor tersebut dari negara mana. Bibit menyebutkan, stok gula di Jateng saat ini juga sekitar 60.000 ton. Sementara total kebutuhan gula masyarakat Jateng mencapai 30.000 ton/- bulan. Bibit juga menjamin impor tersebut tidak mengganggu produksi yang telah ada,lantaran telah melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak terkait, termasuk petani tebu. Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Abdul Wachid meminta, agar para petani tebu terus mendapatkan perlindungan. Langkah itu demi kesejahteraan para petani tebu. ”Kita sendiri heran karena ketika gula naik sedikit dan bisa menguntungkan petani, justru banyak pihak yang protes,”katanya. Menurut Wachid, selama ini para petani tebu tidak pernah menikmati keuntungan karena harga gula di pasaran selalu rendah. Karena tidak bisa menikmati keuntungan dari hasil kerjanya,banyak sekali petani tebu yang akhirnya menjadi enggan melanjutkan pertanian tebu.”Akhirnya beralih bercocok tanaman lainnya,misalnya padi,”katanya. (muh slamet/ khusnul huda) |