|
||||||||||||||||||
| Bahan Bom 12 Kg Disita di Bogor |
|
|
| Friday, 14 August 2009 | |
BAHAN PELEDAK, Petugas kepolisian menyita sejumlah bahan peledak dari
sebuah rumah kontrakan di Kampung Bojong RT 02/04, Kelurahan Cimahpar,
Bogor Jawa Barat, Rabu (12/8) malam. Keberadaan bahan peledak ini
diduga mempunyai kaitan dengan aktivitas jaringan teroris Noordin M
Top.
BOGOR (SI) – Penemuan bahan baku bom di sebuah rumah di Bogor,Jawa Barat,Rabu (12/8) malam menunjukkan sel-sel jaringan teroris masih aktif.Sel di Jawa Barat diduga berfungsi menyiapkan serangan berikutnya. Bahan baku pembuatan bom itu ditemukan di sebuah rumah di Kampung Bojong,RT 02/04,Kelurahan Cimahpar,Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor. Wakil Kepala Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Pol Sulistyo Ishak mengatakan,bahan peledak di Bogor sudah disita oleh Detasemen Khusus (Densus) 88/- Antiteror untuk diselidiki apakah mirip dengan yang ditemukan di Jati Asih,Bekasi,salah satu tempat persembunyian jaringan teroris Noordin M Top. “Sekarang sudah disita dan sedang diteliti tim Densus 88 apakah memang ada kaitannya dengan bahan yang digunakan sebagai peledak atau bom,” kata Sulistyo di Mabes Polri, Jakarta, kemarin. Menurut dia, pendalaman itu dilakukan karena menurut pengakuan warga sekitar rumah kontrakan itu, salah satu pengontrak mirip pelaku bom yang fotonya sudah dirilis oleh Polri. Menurut Sulistyo,Polri akan memproses dan menindaklanjuti apakah memang tempat dan temuan tersebut menjadi salah satu rangkaian rencana Noordin dan jaringannya. “Kita masih harus buktikan dengan fakta maupun keterangan pendukung. Dari beberapa bahan tersebut tentu kita tidak bisa langsung mengatakan sama atau tidak, tetapi melalui proses tim laboratorium forensik,”katanya. Dari temuan bahan kimia seberat 12 kg itu, lanjut Sulistyo, Polri belum menangkap seorang pun yang diduga terlibat dengan pemilikan dan penggunaan bahan baku bom itu. “Belum (ada yang ditangkap), baru barang bukti (yang disita),”ungkapnya. Pengamat intelijen Andi Widjojanto mengatakan,masih terdapat sekitar tiga sampai lima sel teroris aktif yang mampu melakukan penyerangan ataupun membantu pelarian. “Jika satu sel terdiri atas lima sampai tujuh orang,masih terdapat sekitar 20-an pelaku teror yang sewaktu-waktu dapat melakukan aksinya,” ujar Andi. Persebaran sel-sel teror ini, menurut Andi, tergantung dari fungsi tiap sel. Sel yang berfungsi untuk melakukan penyerangan tersebar di seputar Provinsi Jawa Barat. Pemilihan Jawa Barat karena posisi strategis yang diserang berada dalam wilayah Jakarta dan sekitarnya. “Penemuan bahan peledak di Bogor membuktikan sel teror untuk penyerangan berada di wilayah Jawa Barat,”ujarnya. Adapun sel-sel yang memiliki fungsi membantu pelarian terdapat di Jawa Tengah,bahkan sampai ke Jawa Timur.Umumnya,kata Andi, sel yang membantu pelarian mencari tempat-tempat yang dianggap steril. “Sel ini akan mencari tempat yang belum pernah digerebek pihak kepolisian,” ujar Andi. Selain sel-sel aktif,Andi memperkirakan Noordin juga masih memiliki jaringan yang belum diaktifkan sekitar 120 orang. Jumlah tersebut dapat bertambah jika sekitar 160–180 narapidana kasus terorisme ikut dihitung dan dapat kembali diaktifkan. Andi memprediksi setelah penggerebekan, kemungkinan Noordin M Top untuk segera dapat ditangkap semakin susah mengingat masih banyak sel teror yang berada dalam pengaruhnya. “Posisi Noordin makin susah diprediksi. Nalurinya adalah melenyapkan diri dan Noordin sangat lihai,”katanya. Pihak kepolisian, lanjut Andi, harus terus-menerus melakukan penyergapan-penyergapan untuk menimbulkan kepanikan dan efek kejut pada sel-sel tersebut. “Efek kejut bisa menimbulkan kesalahankesalahan yang bisa membuat mereka tertangkap,”tandasnya. Periksa Enam Saksi Pada penemuan bahan peledak bom di Bogor, petugas Kepolisian Wilayah (Polwil) Bogor telah memeriksa enam saksi.Mereka adalah Ugi Sugianto, 47, warga setempat yang menyewakan rumah kontrakan mirip gudang tersebut kepada tiga orang yang diduga teroris.Kemudian, Herlan, pemilik bangunan semipermanen seluas 3X5 meter persegi asal Perumahan Tanah Baru, Kelurahan TanahBaru,Kecamatan Bogor Utara,Kota Bogor. Sementara empat orang lainnya adalah Lurah Cimahpar, ketua RT setempat, peneliti pertanian,dan seorang warga sekitar yang kediamannya tak jauh dari lokasi penemuan. ”Kami sedang menyelidiki siapa pemilik bahan-bahan kimia tersebut,” kata Kapolwil Bogor Kombes Pol Agung Sabar Santosa. Berdasarkan keterangan saksi, semuanya tidak mengetahui secara detail tentang penemuan bahan baku peledak. Salah satu saksi polisi ,Ugi, menyatakan, satu dari tiga orang penyewa rumah kontrakan bekas kandang ayam tersebut berlogat Melayu, sedangkan seorang lagi diketahui mirip dengan pelaku teroris di Jati Asih, Bekasi, bernama Eko Joko Sarjono alias Eko Peyang yang tewas ditembak anggota Densus 88/Antiteror. “Saya lihat tayangan di televisi, saya jadi ingat sama orang yang pertama datang ke saya untuk menyewa gudang ini. Setelah saya ingat-ingat,mukanya mirip Eko yang fotonya diperlihatkan polisi,” ujar Ugi saat ditemui di gudangnya kemarin. Dia menjelaskan, sekitar enam bulan lalu, dia kedatangan tiga orang menggunakan mobil Toyota Avanza warna silver. Tiga orang dalam mobil itu terdiri atas dua orang pria dan seorang wanita yang menggunakan cadar. Satu orang yang menjadi sopir kemudian turun dan menemui Ugi di lokasi penggergajian kayu miliknya. “Dua orang lagi, yang satu orangnya perempuan menunggu di mobil. Pria yang duduk di depan perawakannya gempal, jidatnya lebar, dan ada jenggot tipis, logatnya Melayu. Kalau yang perempuan perawakannya kecil dan memakai cadar,”kata Ugi. Pria yang turun dari mobil kemudian mengutarakan maksudnya untuk mengontrak gudang seluas 3x5 meter persegi itu.“Orang yang wajahnya mirip Eko itu bilang mengontrak untuk satu bulan dulu, dia bilang mau bikin usaha pembuatan pupuk. Dia juga mengaku mahasiswa,tapi saya kurang yakin,” ujarnya. Ketidakyakinan Ugi karena melihat perawakan pria yang duduk di bangku depan yang usianya sekitar 30 tahunan.“Kalau yang mirip si Eko logatnya Jawa,tapi pria yang enggak turun dari mobil logatnya Melayu,” kata pria yang sudah membuka usaha penggergajian kayu sejak puluhan tahun itu. Ugi menjelaskan, pria yang datang ke tempat penggergajian kayu miliknya itu berencana menyewa untuk satu bulan. Saat itu harga sewa yang disepakati sebesar Rp 200.000. “Tapi waktu itu, orang itu tidak bilang kapan mulai menempati gudang itu.Baru 10 hari kemudian, mereka mulai menempati gudang,”kata pria yang juga membuka penampungan barang bekas yang lokasinya berdampingan dengan gudang. Gudang tersebut katanya disewa dari Herlan untuk waktu tiga tahun dengan harga Rp 7 juta. Rencananya gudang semipermanen itu akan dijadikan lokasi penggergajian kayu.Tapi, hingga kini rencana itu belum terlaksana. ”Sisa waktu penyewaan masih 1,5 tahun lagi, makanya daripada kosong pas ada orang yang mau sewa saya izinkan, ”katanya. Dia mengaku jarang bertemu orang yang menyewa gudang karena kesibukannya di tempat penggergajian kayu. Menurut Ugi, mereka datang setiap 10 hari ke gudang. Karena jarang bertemu, dia tidak mengetahui kapan bahanbahan kimia dibawa ke gudang tersebut. ”Saya sibuk di lokasi penggergajian di lokasi lain, mereka waktu itu bilang akan membuat pupuk,” ujar pria yang memiliki tiga anak itu. Karena belum ada kejelasan lamanya waktu mereka menyewa gudang itu,Ugi kemudian meminta para penyewa untuk menyerahkan KTP. Namun, saat itu mereka berkilah akan memfotokopi dulu KTP-nya. ”Setelah itu mereka tidak kembali lagi sampai sekarang,” ujarnya. Karena orang yang menyewa gudangnya menghilang, satu bulan lalu Ugi membongkar paksa kunci gembok yang dipasang di pintu masuk bagian belakang. Saat itu dia mendapati gudangnya dipenuhi berbagai macam bahan kimia baik cair maupun berupa serbuk.Saat itu Ugi tidak menaruh curiga terhadap temuan tersebut. Barulah ketika dia melihat ada temuan bom di Puri Nusaphala, Jati Asih, Bekasi, Ugi teringat dengan bahan-bahan kimia yang ada di gudangnya hingga kemudian melapor ke polisi. Di dalam rumah itu, polisi menemukan sejumlah bahan kimia cair, di antaranya NA sulfat 2 kg, soda api 5 kg,belerang 1 kg,zioloid 6 kg,cairan 1 jeriken,dan hydrogen peroxida. Polisi juga menemukan beberapa batang paralon di dalam rumah itu. Komandan Satuan II Pelopor Brimob Polri,Kedunghalang,Bogor Kombes Pol Saeful Bachri, mengatakan, bahan bahan yang ditemukan di rumah ini mirip dengan yang di Jati Asih,Bekasi,beberapa waktu lalu. Menurutnya jika dibuat bom, daya ledaknya tinggi.“Temuan ini dalam bentuk rakitan gakada,cuma dalam bentuk bahan dasar saja,” ujarnya di lokasi kejadian. Berdasarkan pantauan harian Seputar Indonesia (SI), lokasi gudang bercat hijau tersebut berada di perkampungan sepi penduduk, tepatnya di tengah area perkebunan singkong dan jagung. Jaraknya sekitar 5 km dari pusat kota Bogor. Lokasi bagian dalam gudang sangat kotor, dipenuhi sampah. Gudang dengan panjang 5 meter itu bagian belakangnya disekat menggunakan bilik untuk kamar mandi. Namun, di kamar mandi hanya ada toilet duduk tanpa bak mandi. (rahmad sahid/pasti liberti/haryudi) |