VALAS

KURS

JUAL

BELI

USD9125.00 8875.00
SGD7185.82 7170.82 
AUD9810.20 9506.20 
JPY118.25 113.83 
10-Feb-2012 / 11:40 WIB

 
Seniman Nyentrik yang Nrimo PDF Print
Tuesday, 04 August 2009
Image

DUA puluh tahun berkecimpung dalam dunia seni, baru belakangan ini nama Urip Ariyanto alias Mbah Surip melesat bak meteor.Namun,ketenaran itu hanya sekejap diraih,sebab ajal sudah menjemputnya.


Lagu Tak Gendong menghantarkan Mbah Surip menjadi seseorang yang begitu fenomenal di negeri ini. Seiring kemunculannya yang melesat cepat, kepergiannya pun begitu mendadak dan mengagetkan semua orang. Mbah Surip sedang berada dalam puncak kesuksesan. Jadwal manggung yang padat, tiap hari muncul di berbagai televisi.Mbah Surip pun mendadak muncul sebagai selebriti baru yang kaya raya.

Maka ketika kemarin,tepatnya pukul 10.30 WIB,Mbah Surip dikabarkan meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit Pusdikkes, semua orang seperti terhenyak. Pria kelahiran Mojokerto,5 Mei 1949, ini dikenal sebagai sosok sederhana dan nrimo.Hidup dijalani mengalir bagai air, tidak pernah mengeluh, dan senantiasa bersyukur. Karena itu, saat dia mengeluh sakit,semua hampir tidak percaya .

Saat menghembuskan napas terakhirnya, Mbah Surip berada dalam pelukan Farid, anaknya sekaligus asistennya.Pelawak Mamiek Prakoso dan Tarzan pun menjadi saksi detik- detik terakhir kepergian pelantun Tak Gendongitu. Dikisahkan Mamiek, pada Senin sore sekitar pukul 14.30,Mbah Surip dan anaknya, Farid, datang naik motor ke rumahnya. ”Dia ngeluhkecapekan,dikejar orang terus, dikejar wartawan, dikejar acara, dikejar fans. Sakit ampun, satu kata capek,” kata Mbah Surip seperti ditirukan Mamiek di kediamannya, kemarin.

Mamiek pun tidak menduga, kepergian rekan seprofesinya itu bisa begitu cepat.” Waktu saya antar ke rumah sakit, dia hanya mengeluh kecapekan saja.Tapi dalam perjalanan,napasnya sudah berakhir,”ucap Mamiek. Kepergian Mbah Surip tentu sangat”melukai’’ hati Mamiek.Rumahnya” dipilih’’ sebagai tempat untuk istirahat, selama-lamanya. ”Dia seperti minta izin karena sudah tiga kali mencari saya,baru kali ini ketemu,”kata Mamiek. Ya, mereka baru bertemu setelah hampir setahun tidak saling mengunjungi.

”Selama hidupnya, dia sangat sabar, nrimo, sederhana,” kenang Mamiek. Ketenaran tidak membuatnya silau, hanya kewalahan dan kelelahan. ”Buat dia uang bukan yang utama.”tandas Mamiek. Kesibukan Mbah Surip yang luar biasa diakui oleh manajemen yang mengurusinya. Menurut Petrus Idi Darmono,dari Kampung Artis Manajemen, tempat Mbah Surip bernaung sekarang,beberapa hari terakhir ini aktivitasnya sangat padat. ”Empat hari lalu aku mohon sama dia biar istirahat, jangan muter- muterterus,”kata Petrus.

Job Mbah Surip memang luar biasa banyak.Dalam sehari dia bisa menghadiri 2–3 acara.Kebanyakan acara sosial, tidak lewat manajemen.” Dia orangnya sangat baik, sering bantuin teman-temannya. Banyak mengurusi acara sosial.Jarang ambil acara lewat manajemen,” jelas Petrus. Jiwa sosial yang tinggi ini dimiliki Mbah Surip sejak masih zaman susah, sampai kini terkenal. Siapa sangka, pria berambut gimbal ini sudah dua puluh tahun malang melintang dalam dunia seni. Dunia seni diseriusi sejak dia kembali dari petualangan kerja perminyakan di beberapa negara dunia seperti Yordania, Kanada, dan Amerika Serikat.

Super hitsnya Tak Gendong dia buat tahun 1983 ketika berada di Texas. Kemudian lagu tersebut dirilis dalam bentuk album pada tahun 2003. Kiprahnya dalam dunia musik sendiri dimulai dari jalanan sekitar tahun 1989. Saat itu Mbah Surip” berkarier’’ di seputaran terminal Blok M. Gayanya pun sangat khas,rambut gimbal dengan pakaian dan topi ala Jamaika. Tony Q Rastafara mengenang perkenalannya dengan Mbah Surip.

”Mbah Surip pertama kali datang menggunakan sepeda dari Mojokerto, dengan topi baretnya dan dandanannya yang serba necis, dulu rambutnya nggak gimbal,”kata Tony yang juga sahabatnya itu. Tony menyebutkan, Mbah Surip akan”menggila’’ ketika memegang gitar. Di bawah pohon, biasanya ia memainkan gitar dengan setelan fals berpadu lirik semaunya. Mbah Surip sering menjadikan banyolan teman-temannya sebagai lirik lagu. ”Kalau sedang memamerkan lagu barunya,bisa satu hari dia nyanyi. Kalau nggak diberhentikan, nyanyi terus,”tandas Tony.

Kemudian Mbah Surip mengubah rambutnya menjadi gimbal terinspirasi dari Tony.Pelawak Doyok pun mengenang masa perkenalannya dengan Mbah Surip. ”Saya mau minta maaf sama beliau, karena waktu dulu, saat saya di masa jaya, saya sering suruh-suruh dia, bikin kopilah,”cerita Doyok. Roda berputar, kini Mbah surip di atas angin. Dia terkenal dan kaya raya.Doyok pun belum sempat bertemu untuk berbincang. Satu hal yang dikenang oleh pelawak Tarzan adalah Mbah Surip adalah penggemar setia Srimulat.

”Waktu belum terkenal, dia selalu nonton Srimulat di Ancol,” kata Tarzan. Dari situ Mbah Surip mulai memasuki pergaulan sesama pelawak dan menjadi teladan yang baik. ”Kami bangga punya teman seperti Mbah Surip, kami para pelawak kaget, malaikat pun kaget, Mbah Surip enggak ada gantinya,” tandas Tarzan. (tedy achmad/ johana purba)