VALAS

KURS

JUAL

BELI

USD9125.008875.00
SGD7214.907199.90
AUD9770.109467.10
JPY120.46115.93
3-Feb-2012 / 11:44 WIB

 
Teror yang Gagal Melemahkan Perekonomian PDF Print
Wednesday, 22 July 2009
TERORIS menggonggong, perekonomian tetap berlalu. Tamsil inilah yang kurang lebih bisa disematkan pada perekonomian Indonesia pascaledakan bom di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jakarta, Jumat (17/7) lalu,yang menelan puluhan korban, termasuk 9 korban jiwa.

Sampai penutupan Selasa (21/07) kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat melemah Jumat (17/7) lalu,menguat tajam 40,201 poin (1,91%) ke level 2.146,554. Demikian pula nilai tukar rupiah, ditransaksikan di kisaran Rp10.065–Rp10.075 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat dibandingkan penutupan Jumat (17/7) lalu,yang ditransaksikan pada level Rp10.160 per dolar AS. Penerbangan internasional dari dan ke Indonesia pun berjalan normal, dengan tidak terdapat eksodus besar-besaran ke luar negeri.

Sebaliknya, tak ada pembatalan secara serentak penerbangan ke Indonesia. Begitu pula mal dan tempat perbelanjaan, tetap ramai. Indonesia sebagai bangsa telah belajar banyak sejak peristiwa Bom BaliIpada2002.padatahunitubangsa ini memang sempat terperanjat dan perekonomian bergejolak.Bom Bali I menyebabkan IHSG melemah tajamhingga10%.Rupiahmelemah 200 poin dari Rp9.600 menjadi Rp9.800 per dolar AS. Setelah itu, pada berbagai peristiwa ledakan bom yang lain, perekonomian relatif bergeming.

Berkaca pada nilai rupiah, misalnya, pada Agustus 2003 setelah insiden bom JW Marriott I, rupiah stabil pada kisaran Rp9.100–9.000 per dolar AS. Pada September 2004, pascaledakan bom di Kedutaan Besar Australia, kurs rupiah stabil di kisaran Rp9.700- 9.600 per dolar AS. Pada Oktober 2005,setelah Bom Bali II, rupiah bahkan malah menguat dari Rp10.800 ke Rp10.500 per dolar AS pada akhir bulan. Realisasi investasi dalam bentuk penanaman modal dalam negeri dan asing selama periode 2001– 2005 bahkan cenderung naik.

Pertanyaannya, mengapa bom kali ini relatif tidak berpengaruh terhadap iklim investasi dan momentum pertumbuhan perekonomian domestik? Jawabannya sederhana. Ledakan bom di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton, Jumat (17/7) lalu, bukan merupakan cerminan risiko kredit Indonesia, atau kalaupun ya, investor ataupun pelaku ekonomi lainnya sudah hampir pasti memperhitungkannya dalam kalkulasi usaha yang mereka lakukan.

Investor tidak hanya terpaku pada satu peristiwa,melainkan rentetan kejadian serta peristiwa yang berdimensi jangka panjang. Pada titik ini,kehancuran infrastruktur, iklim usaha yang tidak bersaing, hubungan industrial yang tidak tertata rapi, serta ketidakpastian perpajakan dan kepabeanan, akan lebih meningkatkan risiko kredit investasi. Sebaliknya, perbaikan infrastruktur, perbaikan kebijakan persaingan usaha, perbaikan hubungan industrial dan perbaikan sistem perpajakan dan kepabeanan,akan memperbaiki atau menurunkan risiko kredit Indonesia.

Dengan demikian, sesungguhnya yang lebih krusial adalah kebijakan yang akan diambil oleh kabinet baru nantinya, termasuk berbagai perkembangan dan aksi pemerintah dalam memperbaiki iklim usaha dan investasi di dalam negeri. Memang,dalam jangka pendek bom di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton akan sedikit berpengaruh terhadap pariwisata dan aktivitas perjalanan. Namun, dampak ini hanya bersifat sementara.

Sebaliknya, momentum penguatan ekonomi domestik ke depan agaknya tidak akan tertahan. Setidaknya ada dua hal yang menyebabkan ini. Pertama, relatif aman dan suksesnya pelaksanaan Pemilihan Presiden 2009,yang memunculkan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono sebagai pemenang. Hasil ini tidak mengejutkan karena para pelaku bisnis dan investasi sudah mengantisipasinya.

Hasil ini juga memberikan kepastian berusaha, sehingga dinamika perekonomian secara umum akan lebih bergairah. Kemenangan ini juga terjadi secara telak, sehingga pasangan tersebut memiliki legitimasi sangat tinggi. Selain itu, kemenangan pasangan SBY-Boediono didukung penguasaan mayoritas parlemen, yang memungkinkan keputusan terkait program ekonomi bisa lebih cepat. Kedua,perekonomian Indonesia lebih mengandalkan kekuatan domestik ketimbang faktor eksternal untuk tumbuh dan berkembang dalam beberapa tahun terakhir.

Hal ini terlihat dari kontribusi konsumsi domestik yang mencapai 65% produk domestik bruto (PDB). Dengan demikian, kalaupun nantinya terdapat gangguan eksternal akibat bom ini,dampaknya terhadap perekonomian hampir pasti adalah minimal. Di samping kedua hal ini,krisis global yang selama ini menyebabkan tertekannya tingkat pertumbuhan domestik sekarang mulai mereda. Meredanya krisis global akan meningkatkan permintaan global terhadap produk-produk yang menjadi andalan ekspor Indonesia seperti minyak sawit mentah (CPO),kakao,dan kopi.

Hal ini tentu saja akan menambah energi positif terhadap perekonomian domestik. Indonesia termasuk satu dari tiga negara yang diperkirakan mengalami pertumbuhan positif pada 2009. Negaranegara lain diperkirakan masih mengalami kontraksi ekonomi. Pada saat yang sama, dari dalam negeri terdapat sentimen positif lain yang saat ini masih merebak pada pasar modal, keuangan dan aset di Indonesia. Dalam hal ini,sebentar lagi laporan keuangan semester I emiten-emiten akan keluar.

Para analis memperkirakan laporan ini lebih baik dibanding prediksi sebelumnya, sehingga akan memperkuat sentimen positif bagi IHSG. Berbagai hal ini secara langsung dan tidak langsung akan menyebabkan dampak bom di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton,terhadap perekonomian Indonesia sangat tidak signifikan. Dengan kata lain, teror bom dapat dikatakan gagal melemahkan perekonomian.(*)

M IKHSAN MODJO
Direktur Indef