VALAS

KURS

JUAL

BELI

USD9125.00 8875.00
SGD7185.82 7170.82 
AUD9810.20 9506.20 
JPY118.25 113.83 
10-Feb-2012 / 11:40 WIB

 
Indonesia Perlu Membangun Tata Nilai Baru PDF Print
Sunday, 05 July 2009
DEPOK (SI) – Indonesia perlu membangun tata nilai baru agar Indonesia bisa semakin maju di masa mendatang.Dengan tata nilai baru,Indonesia akan lebih mampu beradaptasi dalam menghadapi berbagai perubahan global.

“Presiden dan wakil rakyat dalam rapat pertama harus membahas mau di mana bangsa Indonesia ke depannya. Sebagai contoh, jika akan fokus dalam bidang pariwisata, kita harus menaikkan kunjungan para turis,” ujar pakar manajemen Rhenald Kasali seusai dikukuhkan sebagai guru besar tetap ilmu manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE UI) di Balai Sidang UI,Depok,kemarin.

Dia menegaskan, hal yang patut menjadi perhatian utama dalam tata nilai baru adalah kejujuran serta kecepatan pelayanan publik. “Kita bukan melihat hasilnya, tapi bagaimana tata nilai itu dilaksanakan? Jadi salah tak apa-apa, yang penting jangan langgar tata nilai,”katanya.

Pengukuhan Rhenald Kasali sebagai guru besar kemarin dilakukan oleh Rektor UI Prof Gumilar Rusliwa Somantri.Pengukuhan tersebut berdasarkan SK Menteri Pendidikan Nasional No 21716/ A4.5/KP/2009. Dalam kesempatan itu, Rhenald membawakan orasi ilmiah berjudul “Keluar dari Krisis: Membangun Kekuatan Baru melalui Core Belief danTata Nilai”.

Menurut Rhenald, kata krisis yang begitu banyak dipakai dalam masyarakat mencerminkan ketidak berdayaan atau rasa putus asa akibat tidak dapat ditanganinya masalah dengan baik. Suatu masalah yang terjadi berulang-ulang mencerminkan lemahnya kendali manajerial dalam pelaksanaan kebijakan,tidak adanya pembelajaran yang diambil, lemahnya penerapan knowledge management, dan kurang kuatnya leadership dalam sistem perekonomian suatu negara.

Kelemahan-kelemahan tersebut, kata Rhenald, harus segera diatasi, diisi dengan perencanaan strategis yang didukung dengan konsepsi manajemen modern.Konsepsi ini berlandaskan tata nilai, budaya ekonomi, serta core belief yang mendukung. Dengan demikian, bangsa nantinya mampu beradaptasi dalam menghadapi berbagai cobaan berupa perubahan yang semakin hari semakin berat,lebih variatif,dan datang lebih cepat.

Dunia usaha dan negara sebaiknya mengambil manfaat yang lebih luas dari perkembangan ilmu manajemen dan bukan mengerdilkannya. Banyak pihak yang mengambil manfaat parsial dengan fokus pada toolsberupa teknik-teknik manajerial untuk memperbaiki kinerja, menumbuhkan return, dan memperbaiki efisiensi.

Padahal, lebih dari itu, manajemen adalah ilmu yang berhubungan dengan manusia sehingga dalam dunia yang berubah, perhatian lebih besar justru dituntut pada aspek manusia. Perhatian itu adalah menumbuhkan keyakinan-keyakinan baru tentang masa depan, optimisme, dan membentuk manusia baru yang lebih produktif serta adaptif. Pelaku usaha Indonesia perlu kemampuan adaptif untuk menyikapi setiap perubahan pasar, baik yang terjadi di tingkat nasional, regional maupun internasional.

“Setiap guncangan dan krisis perlu segera diantisipasi secara tepat dan benar,” paparnya. Dia menambahkan, insiden krisis yang datang terus-menerus menunjukkan tidak siapnya manusia Indonesia menghadapi perubahan. Perubahan dipandang lebih sebagai ancaman yang harus dilawan dan dihindari, bukan untuk dihadapi.

”Pengalaman saya menunjukkan krisis justru terjadi saat manusia tidak mau atau enggan beradaptasi,” ujar Rhenald Kasali. Rhenald memaparkan 10 nilai budaya transisi negatif yang harus dikikis para pemimpin agar Indonesia terbebas dari belenggu-belenggu transisi yang cenderung merusak martabat dan masa depan perekonomian.

Nilai-nilai budaya negatif itu antara lain nilai-nilai budaya jalan pintas, nilai-nilai budaya konflik,nilai-nilai budaya curiga, nilai-nilai budaya mencela, nilai-nilai budaya foto-foto, serta nilai-nilai budaya pengerahan otot (massa).Kemudian nilai-nilai budaya tidak tahu malu, nilai-nilai budaya popularisme, nilai-nilai budaya prosedur, serta nilai-nilai budaya menunda.

Karena itu,Rhenald mendorong agar para pemimpin dan dunia usaha bersama-sama membangun budaya ekonomi baru yang memungkinkan perekonomian menjadi lebih sosial, mandiri, dan produktif. Kunci semua itu adalah pada the man behind the gun dengan core belief positif.

Hadir dalam acara pengukuhan tersebut,Rektor UIN Komaruddin Hidayat,Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil,Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Negara Koperasi dan UKM Suryadharma Ali, mantan Direktur Utama Pertamina Ari H Soemarno, dan pengusaha Rahmat Gobel.

Selain Rhenald Kasali, dalam kesempatan tersebut UI juga mengukuhkan guru besar dalam bidang ilmu administrasi Prof Dr Irfan Ridwan Maksum. Dalam pidato pengukuhannya berjudul “Ketidakharmonisan Berbagai Subsistem dalam Sistem Pemerintahan Daerah di Indonesia: Sebuah Peta Masalah”, dia mengatakan, bangsa ini mengalami perubahan lingkungan strategis yang besar di saat memperbaiki sistem pemerintahan daerah.

Semestinya ke depan, di satu sisi,diharapkan bangsa Indonesia dapat melakukan adaptasi sistem pemerintahan daerah terhadap perubahan lingkungan yang terjadi tanpa terjebak menjadi bangsa pengikut mode. Di sisi lain Indonesia harus selektif dalam melakukan perubahan sistem tersebut tanpa terjebak menjadi bangsa yang konservatif.

Rektor UI Gumilar Rusliwa Somantri mengatakan, dengan pengukuhan dua guru besar tersebut, UI mempunyai 266 guru besar. Dari 266 guru besar tersebut, tujuh di antaranya merupakan wanita,sedangkan 259 lakilaki. “Saat ini masih ada empat lagi calon guru besar yang dalam proses di Depdiknas,”katanya. (pasti liberti/ant)