VALAS

KURS

JUAL

BELI

USD9125.00 8875.00
SGD7185.82 7170.82 
AUD9810.20 9506.20 
JPY118.25 113.83 
10-Feb-2012 / 11:40 WIB

 
Investasi 2009 Tumbuh 10% PDF Print
Saturday, 04 July 2009
Image

FTZ Tampak sejumlah jack up rig sedang dalam tahap penyelesaian di galangan kapal Dubai DryDocks Worlds di kawasan FTZ Tanjung Uncang, Batam, kemarin. Sejak ditetapkan sebagai kawasan FTZ, dalam enam bulan pertama tahun ini, enam perusahaan penunjang industri migas telah menanamkan investasinya di FTZ Batam.


JAKARTA (SI) – Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memperkirakan pertumbuhan investasi tahun ini hanya 10%,jauh di bawah pertumbuhan tahun lalu 20,5% atau mencapai USD17,13 miliar.

“Realisasi investasi selama semester I/2009 menunjukkan pertumbuhan, namun detail angkanya belum ada.Pertumbuhan ini akan terus bergerak sampai akhir tahun meski tidak drastis,” kata Kepala BKPM M Lutfi di Jakarta kemarin. Lutfi menambahkan, jika melihat tren penanaman modal asing (foreign direct investment/FDI),pertumbuhan investasi diperkirakan lebih baik pada semester kedua ini ketimbang semester pertama lalu. Tahun lalu,imbuh dia,realisasi FDI mencapai USD14,87 miliar.

Melambatnya pertumbuhan investasi tahun ini juga dibenarkan Deputi Menko Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan Edy Putra Irawady. Dia mengatakan, investasi akan sulit tumbuh di atas 10% selama arus modal belum kembali mengalir.Hampir seluruh dana investasi tahun ini, kata dia, mengendap di Amerika Serikat. “Ini yang menyebabkan investasi tahun ini tidak setinggi tahun lalu.Kecuali kalau kita betul-betul atraktif,”kata dia. Investasi yang cenderung bertahan saat ini, jelas Edy,umumnya dari sektor makanan dan minuman.

Sementara investasi yang berbasis pengetahuan dan teknologi kemungkinan masih rendah. Hal senada diungkapkan Menteri Keuangan (Menkeu) sekaligus pelaksana jabatan Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati. Dia menilai,pertumbuhan investasi pada kuartal II/2009 belum menunjukkan pemulihan signifikan. Investasi diperkirakan baru mengalir deras pada kuartal ketiga III-IV/- 2009. “Investasi secara tren pada kuartal II/2009 menunjukkan stabilitas.

Tapi belum peak upatau pulih sesuai yang diharapkan,”ujarnya. Hal itu, kata dia, antara lain terindikasi dari permintaan semen yang belum signifikan, di samping pertumbuhan kredit investasi dan modal kerja yang belum optimal. “Biasanya mulai berjalan pada semester II/2009,”kata Sri Mulyani. Arus modal tercatat turun drastis pada kuartal IV/2008 dan baru mulai berbalik di kuartal I/2009 meski tetap belum kembali pada posisi sebelum krisis keuangan global.

Arus modal ke negara berkembang tahun ini diperkirakan turun USD700 miliar. Indonesia, kata Menkeu, termasuk di antara beberapa negara yang menunjukkan pembalikan arah arus modal di kuartal I/ 2009. “Indonesia mungkin termasuk yang dikecualikan karena saat likuiditas global kering untuk Indonesia (likuiditas) cukup baik,”ujarnya. Selama tiga bulan pertama 2009, ujar Sri Mulyani, Indonesia menerima arus modal sebesar USD2 miliar yang mendorong cadangan devisa nasional mendekati USD57 miliar. Jumlah ini cukup untuk menutup kebutuhan impor dan membayar utang jangka pendek.

Revisi DNI

Terlepas dari itu,Deputi Menko Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan Edy Putra Irawady mengatakan bahwa pemerintah saat ini tengah menyiapkan revisi daftar negatif investasi (DNI) untuk mengawasi jalannya investasi. Pemerintah mengevaluasi ulang sektor-sektor usaha yang terkena DNI. Edy mencontohkan jenis usaha minuman keras yang selama ini tertutup bagi investasi asing. “Apa kita akan selamanya membiarkan minuman keras diimpor?” kata dia.

Dia menegaskan, revisi peraturan ini dipastikan tidak akan merusak iklim investasi di dalam negeri. Edy menuturkan, saat ini masih ada empat sektor usaha yang belum selesai dibahas oleh tim teknis di antaranya berhubungan dengan Departemen Kesehatan Komunikasi dan Informatika serta Pekerjaan Umum. (meutia rahmi)