|
||||||||||||||||||
| Dorong Ekonomi, BI Rate Kembali Dipangkas |
|
|
| Saturday, 04 July 2009 | |
|
JAKARTA (SI) – Bank Indonesia (BI) kembali memangkas tingkat suku bunga
acuan,BI Rate, sebesar 25 basis poin (bps) hingga menjadi 6,75%.
Pemangkasan suku bunga acuan ini diharapkan dapat mendorong pemulihan kegiatan ekonomi domestik. Deputi Gubernur Senior BI Miranda Swaray Goeltom mengatakan, penurunan dilakukan setelah mempertimbangkan tekanan inflasi yang melemah dan tandatanda pemulihan perekonomian global. ”Perkembangan ekonomi global menunjukkan tanda perbaikan, tiba di bottom-nya. Negaranegara lain juga sudah menunjukkan perbaikan,” ujar Miranda di Gedung BI,Jakarta,kemarin. Dia melanjutkan, di negara maju, tanda-tanda awal stabilisasi pemulihan perekonomian sudah berlangsung. Di negara-negara berkembang, pemulihan ekonomi semakin menunjukkan penguatan sebagaimana dialami China, India, dan Korea Selatan. ”Ekspektasi yang positif terhadap pemulihan ekonomi dunia tersebut telah menimbulkan sentimen positif pada pelaku pasar keuangan global, sehingga mendorong peningkatan arus modal masuk ke Indonesia,”katanya. Dia menuturkan, kecenderungan ini telah memberikan dampak positif terhadap kinerja ekonomi Indonesia dalam kuartal II 2009. Menguatnya perekonomian negara mitra dagang telah memperbaiki kinerja ekspor Indonesia sehingga transaksi berjalan mengalami surplus sebesar USD2,2 miliar. Dari sisi permintaan domestik,konsumsi swasta diperkirakan masih dapat tumbuh cukup tinggi di atas 5% bersamaan dengan semakin rendahnya tingkat inflasi. Sejak awal tahun, bank sentral telah menurunkan tingkat suku bunga acuan sebanyak enam kali. Ini dilakukan demi mendorong pengucuran kredit perbankan. Pada Januari 2009,BI Ratemasih di posisi 8,75%. BI meminta perbankan nasional secepatnya merespons kebijakan tersebut dengan memperbesar peluang pemberian kredit ke sektor riil.Selain suku bunga acuan telah turun berulang kali, kondisi makroekonomi juga relatif lebih baik dibanding kuartal sebelumnya. Kendati begitu, tutur Miranda, pengucuran kredit perbankan perlu dilakukan secara hati-hati. Perbankan tetap harus memperhatikan tingkat serapan dan kebutuhan kredit. BI berharap, kredit yang dikucurkan industri perbankan bisa tumbuh sebesar 15% tahun ini. Ini diperlukan demi mengejar target pertumbuhan ekonomi 4% pada 2009. Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Erwin Aksa mengatakan, dunia usaha berharap industri perbankan segera merespons penurunan BI Rate dengan memangkas suku bunga. Ini penting dilakukan agar dunia usaha bisa memenuhi kebutuhan pendanaan murah demi menopang ekspansi usahanya. ”Dunia usaha selalu mengapresiasi kebijakan BI tersebut,namun alangkah lebih memberi nilai tambah lagi bagi dunia usaha bila suku bunga perbankan juga didorong untuk turun,”ujarnya. Menurutnya, dengan BI Rate 6,75%, idealnya suku bunga perbankan 10–11%. ”Kami juga sangat berharap perbankan lebih berbesar hati.Karena walau bagaimanapun keuntungan mereka triwulan kemarin sudah cukup baik. Jadi sudah saatnya untuk berbagi dengan dunia usaha,” ujarnya. Erwin memberikan catatan,pemerintah juga seharusnya berperan besar merespons penurunan BI Rateini.Selain mendorong bankbank pemerintah untuk mengawali penyesuaian suku bunga kredit, pemerintah juga diharapkan tidak mematok terlalu tinggi tingkat imbal hasil (yield) obligasi pemerintah. ”Pemerintah juga harus mendukung penurunan ini. Artinya, rateuntuk government bond jangan terlalu tinggi,yang terkesan rebutan likuiditas dengan perbankan. Jadi kalau ekonomi mau melaju dengan kencang,harus ada komitmen dan kerja sama semua pihak,” usulnya. (zaenal muttaqin) |